GEMAKU

( Generasi Muda Khonghucu Indonesia)

Sumbangan Sistem Kekeluargaan Konfusianisme dalam Perekonomian

Peneropong: Postinus Gulö. Judul artikel: Political Implications of Confucian Familism. Penulis: Antonio L. Rappa & Sor-Hoon Tan. Jurnal&Volume: Asian Philosophy, Vol. 13, Numbers 2/3, July/November 2003. Penerbit: Carfax Publishing, Taylor & Francis Group

Konteks artikel ini adalah perkembangan Cina di Singapura. Dalam artikel ini penulis mau menunjukkan bahwa sistem paham kekeluargaan Konfusianisme cocok dengan visi dan misi KBE (Knowledge-Based Economy), yang sangat membantu perekonomian Singapura ke arah yang lebih baik. Penulis melihat bahwa sistem kekeluargaan Konfusian telah merasuk ke sistem politik keperintahan Cina. Tetapi ada yang janggal: terjadi penyimpangan tafsiran yang menggiring masyarakat Cina pada sistem otoriter yang sebenarnya tidak dikehendaki oleh Konfusius. Dengan kata lain, sistem kekeluargaan yang diidealkan oleh Konfusius telah disalah-artikan atau disalah-tafsirkan. Walaupun ada banyak sub judul dalam artikel ini, tetapi saya mencoba merangkum ide utama penulis dalam uraian-uraian yang saya tampilkan berikut ini.

Ideologi dan Paham Kekeluargaan Bagi Cina

Paham kekeluargaan Cina punya andil dalam perubahan dan pembangunan sosio-ekonomi Cina-Singapura. Keluarga bagi Cina adalah pusat worldview. Oleh karena itu, keluarga menjadi semacam ideologi (=familism). Sistem keluarga Cina dipengaruhi oleh paham kekeluargaan Konfusius. Menurut Olga Lang, orangtua dalam sistem keluarga Cina berkewajiban mengajari anggota keluarganya tentang mekanisme Negara agar mereka bisa menerima ororitas Negara. Lucian Pye melihat bahwa kultur politik Cina menekankan interpendensi antara pemerintah dan keluarga. Karena, dalam masyarakat tradisional Cina, keluarga berperan untuk mengurangi kekacauan dalam institusi-institusi public, orangtua selalu menekankan order sosial dan kesejahteraan setiap anggota keluarga.

Relationship merupakan motor penggerak dalam politik ideologi kekeluargaan Cina. Implikasi politik dari sistem ini adalah bahwa dalam membangun ekonomi Cina, yang ditekankan adalah jaringan, relasi (untuk saling menolong). Kinship networks (jaringan kekeluargaan), menjadi pilar paradigma baru dalam kerangka kerja ekonomi Cina. Selain itu, yang mengakibatkan Cina mampu menguasai perekonomian secara global adalah etos kerja yang menekankan keuletan dan kerajinan. Ada tiga penjelasan etos kerja.

Pertama, dalam sistem keluarga Cina, etos kerja telah ditanamkan kepada anak-anak sejak kecil. Bagi Cina, kerja dihubungkan dengan kumpulan nilai yang kompleks, yang mencakup pengorbanan diri, rasa percaya, dan hemat yang dipandang sebagai dasar terakumulasinya kekayaan.

Kedua, etos kerja Cina berorientasi kelompok. Setiap individu berpartisipasi dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga, kemudian untuk kesejahteraan masyarakat.

Ketiga, orang Cina bekerja keras untuk mendapatkan imbalan materi. Dalam komunitas Cina perantauan (seperti di Singapura), kemakmuran, kenyamanan, dalam usia lanjut, menduduki posisi sentral dalam persepsi Cina tentang kehidupan yang baik.

Bentuk Ideal Keluarga dalam Ideologi Familistik

Awalnya, bentuk ideal Cina adalah joint family: membangun ikatan kekeluargaan yang terdiri dari lima keturunan yang hidup secara bersama-sama dalam satu atap, sharing bersama, satu dapur bersama, saling berbagi keuntungan serta saling membantu, yang dikendalikan oleh seorang kepala keluarga. Pemerintah kekaisaran Cina tradisonal mengadopsi sistem kekeluargaan ini menjadi bentuk ideal untuk mencapai harmoni dalam sistem pemerintah. Tetapi secara defacto, sistem kekeluargaan yang dikendalikan oleh seorang kepala keluarga dan pemerintahan yang dikendalikan oleh monarkhi, mengakibatkan Cina terjerumus dalam sistem kekeluargaan dan pemerintahan yang sangat feodal (dan hal ini bertolak belakang dengan visi Konfusius yang selalu menekankan dimensi etika dalam menjalankan otoritas). Baru pada zaman dinasti Ming, sistem keperintahan yang feodal lamban laun mulai ditinggalkan. Sistem keluarga a la Konfusian menekankan etika kesalehan, sopan santun, keutamaan, menghargai orang lain. Pada abad 20-an, yang berkembang di dalam masyarakat Cina justru nuclear family (keluarga inti) dan stem family.

Kedua sistem kekeluargaan ini membangun jaringan kekeluargaan (kinship networks) yang lebih luas, tidak semata-mata secara bilogis tetapi jaringan kekeluargaan atas dasar kebajikan-etika. Banyaknya anggota keluarga dalam satu atap pun berkurang. Karena pada era itu, sistem yang cocok dengan bentuk ideal keluarga Cina (menurut kaum terpelajar Konfusian) adalah sistem 3 generasi (orangtua, anak, dan kakek-nenek). Pemerintah Singapura mempromosikan sistem 3 generasi ini dengan membangun rumah bagi mereka yang baru menikah dan ingin tinggal bersama dalam sistem 3 generasi. Program pemerintah semacam ini, sangat mendukung kesejahteraan rakyat Singapura, terutama mereka yang kesulitan mendapat tempat tinggal (rumah).

Keterbukaan Jaringan Kekeluargaan Konfusian Vs Ketertutupan Siklus KekeluargaanDengan menutip pendapat Olga Lang, penulis mengatakan bahwa hubungan antara tiga dan lima keluarga a la Konfusian merupakan kunci relasi-relasi: ayah-anak, suami-istri, adik-kakak (sistem 3 generasi) dan sistem 5 generasi (ayah-anak, suami-istri, adik-kakak, kakek-cucu lelaki, dan paman-kemenakan lelaki). Konfusian lebih condong pada sistem 3 generasi. Bagi Konfusius, relasi antara ayah-anak, suami istri dan adik-kakak, seharusnya seperti itu relasi yang dibangun oleh aparat pemerintah (relasi kaisar-menteri, relasi menteri-rakyat, relasi kaisar-rakyat). Paham kekeluargaan Konfusian menekankan relationship atas dasar etika bukan relasi secara bilogis. Hal ini sangat cocok dengan KBE. Menurut Konfusius, walaupun hidup dalam satu atap, sharing secara bersama-sama belum tentu terbangun rasa solidaritas tanpa disertai sikap yang didasarkan pada moralitas (keutamaan). Oleh karena itu, penulis dengan merunut pada pendapat Konfusius, keluarga Cina idealnya adalah sistem relation-based characteristic dan bukan group-based characteristic (yang cenderung tertutup seperti sistem keluarga Cina yang berkembang di Jepang). Relation-based lebih menekankan kreativitas seseorang dalam mengubah hidupnya; oleh karena itu, karakter ini cocok dengan KBE.

Walaupun Konfusius menawarkan sistem kekeluargaan yang berbasis pada moralitas tetapi rupa-rupanya, masyarakat Cina ada yang menafsir ajaran Konfusius menjadi sangat kaku. Hal itu terjadi (misalnya) ketika orang Cina mengidentikkan family dengan jia. Jia adalah kepala keluarga yang bersifat otoriter, segalanya dia yang menentukan. Ajaran tentang jia yang menggiring Cina ke sistem tradisional keluarga yang subordinasi. Ketika seorang kaisar atau pemerintah memberlakukan paham ini dalam sistem keperintahan-an, saat itu Cina terperangkap dalam sistem pemerintah yang tirani, otoriter; sehingga demokrasi sulit mendapat tempat. Oleh karena itu, W. J. F. Jenner menyebut the Chinese family sebagai sebuah struktur yang otoiter.

Familial and Governmental Authoritarianism

Bagi Cina, the family was the state in miniature, the state the family writ large. Itu sebabnya Max Weber menyebut Cina sebagai “familistic state”. Penulis melihat bahwa dinasti Han yang lebih setia pada ajaran Konfusius. Menurut penulis artikel ini, akibat dari paham keluarga Cina yang ditafsirkan secara berbeda (salah) dengan apa yang dianjurkan oleh Konfuisus tentang sistem keluarga 3 generasi, Cina pernah mengalami krisis karena memberlakukan sistem three tyrannies (ruler, the father, and the husband). Three Tyrannies kemudian berkembang menjadi the three bonds (dalam bahasa Cina, sangang). The three bonds terdiri dari: relasi rulers-ministers; fathers-sons; and husbands-wifes. Tetapi rupanya paham ini berkembang lagi menjadi the three accordances atau three services: minister melayani ruler, anak melayani bapaknya, dan istri melayani suaminya (jadi tidak resiprokal, hanya pelayanan searah saja!). para pengagum three services, menganggap ini sumber dari segala keteratutan. Secara defacto, Paham three services masih sejalan dengan sistem tradisional Cina yang menekankan filial obligation dan filial piety. Menurut penulis, three services tidaklah cocok dengan KBE.

Sistem three services tidak bersifat resiprokal sebagaimana yang diajarkan oleh Mencius (salah seorang murid Konfuisus). Mencius mengatakan: jika seorang pangeran merawat para pembantunya seperti tangan dan kakinya, mereka (para pembantunya) akan merawat pangeran itu seperti perut dan hati mereka. Jika pangeran merawat para pembantunya seperti kuda dan anjingnya, mereka akan merawatnya seperti seorang yang gila. Dan, jika seorang pangeran melihat para pembantunya seperti lumpur dan rerumputan, mereka juga akan melihat pangeran itu seperti seorang lawan.

Menurut Mencius, Konfusius mengajarkan bahwa keteraturan sosio-politik terjadi ketika ruler berkelakuan seperti ruler, minister berkelakuan seperti minister, dan father berkelakukan seperti father dan son berkelakukan seperti son; menurut Konfusius, hal ini yang ia sebut sebagai sumber knowledge, etika. Konfusian dari suku Han melihat bahwa Yin-Yang mengandung sistem resiprokal. Yin diidentikkan dengan minister, son and wife sedangkan Yang diidentikkan dengan ruler, father, husband. Oleh karena itu, three bonds bagi suku Han harus dilihat seperti relasi Yin-Yang.

Melihat uraian di atas, jelas bahwa Konfusius menolak sistem otoriter. Konfusius memberi tekanan pada saling adanya relasi secara etika dan bukan pada control kekuasaan yang otoriter. Seorang murid Konfusius, Xunzi mengatakan bahwa jika setiap orang bersikap hormat, tertib, tanpa cela, menghargai orang lain, saat itulah terjadi bahwa setiap orang bersaudara. Dalam sistem reciprocity, sistem absolut tidak berlaku. Karena dalam sistem reciprocity yang ditekankan adalah fleksibilitas, keutamaan (virtue). Dan, kekuatan relasi yang cocok dalam KBE tidak terletak dalam sistem kekuasaan absolut (husband, father, and ruler) melainkan pada authority yang membangun pengetahuan etika.

Perbedaan antara Authoritative Action dan Authoritarian Action
Menurut Antonio L. Rappa, Cs (Penulis artikel ini), dalam filsafat Cina, authoritative action memiliki sisi positif karena:

Pertama, dalam memangku otoritas-jabatan, tidak dibenarkan sikap-sikap yang mengorbankan kebebasan individu. Akibat positifnya adalah bahwa rakyat menghormati pemegang otoritas-jabatan secara tulus.

Kedua, pemegang authoritative adalah orang yang walaupun dapat melihat kesempatan untuk mengais keuntungan dan bahaya kerugian, pemegang authoritative tidak akan membohongi rakyat dan sekutunya.

Ketiga, untuk menjalankan otoritas tidak dibenarkan sikap-sikap yang memaksa.

Keempat, the teacher’s authority dalam Konfusianisme merupakan paradigma. Menurut Konfusius, seseorang yang memiliki otoritas harus berani menjadi seorang guru. Oleh karenanya, menurut Xunzi (murid Konfusius) kaisar dan ruler dalam perspektif Konfusius adalah teacher. Sejalan dengan itu, Mencius (murid Konfusius) mengatakan bahwa cara mengajar yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah menolong seorang murid menemukan dan menyadari keunggulan dan talentanya. Dalam sistem pengajaran semacam ini, memungkinkan para murid mengolah dirinya sendiri.

Kelima, dalam authoritative action, seorang raja dan ruler harus memiliki kebijaksanaan; dan menurut Xunzi, raja yang bijaksana adalah Yao dan Shun.

Keenam, Yan Hui (murid favorit Konfusius) mengatakan bahwa Konfusius adalah contoh guru dan ruler yang baik, karena beliau selalu menekankan dimensi moral dalam bertindak disiplin. Dalam menentukan dan mengambil kebijakan, menurut Konfusius, harus secara co-determine (menentukan secara bersama-sama).

Ketujuh, dalam menjalankan authoritative, pemerintah harus memperhatikan partisipasi dan hasil akhir yang saling dibagikan sehingga ada harmoni (keadilan) secara komunal. Penulis artikel ini melihat bahwa authoritative action-lah yang sangat cocok dalam KBE, karena ruler dan kaisar yang bersedia menjadi seorang guru akan melahirkan pengetahuan secara turun-temurun; sehingga perbaikan ekonomi, semakin berkembang ke arah yang lebih baik.

Sedangkan dalam authoritarian action, yang dominan adalah sisi negatif karena, memberlakukan sistem memaksa, otoriter. Akibatnya, rakyat pun menjalankan kewajibannya secara terpaksa, bukan atas dasar ketulusan. Penulis melihat bahwa dalam paham three bonds, three services (rulers, fathers, and husbands) cenderung ada tindakan otoriter.

# TaN

Deng Xiao Ping mengadopsi ajaran Kong Zi / Confucius untuk memajukan Tiongkok modern

“Reform is China`s second revolution.” (Deng Xiaoping)

“Made in China”, begitulah tulisan yang seringkali penulis temui ketika berjalan-jalan di area pertokoan. Begitu banyak produk Cina yang menjamur di pasaran Indonesia sejak digulirkannya reformasi Cina, mulai dari peniti, pakaian, perkakas rumah tangga, hingga barang elektronik. Tidak hanya menjangkau wilayah timur, pangsa pasar Cina saat ini juga sampai ke wilayah barat, bahkan sebagian besar negara-negara dunia. Tidak mengherankan jika ada pendapat yang mengatakan bahwa Cina telah menjadi negara superpower yang kelak akan menggeser Amerika Serikat. Faktanya, data dari situs harian Kompas (03/03/05) menyebutkan bahwa dalam dua dekade terakhir ini, pertumbuhan ekonomi Cina mencapai 7-8 persen setiap tahun. Kesuksesan ini membawa RRC sebagai negara yang paling maju dan progresif dalam sejarah perkembangan dunia.

Karena kemajuan yang dihasilkannya, Republik Rakyat Cina saat ini menjadi sorotan dunia. Pasalnya, di tengah era globalisasi dan krisis ekonomi dunia yang sempat mengancam, Cina malah melesat jauh meninggalkan negara dunia ketiga lainnya. Kemajuan tersebut tentu saja tidak didapatkan secara instan. Ada dinamika dan proses panjang yang menarik untuk kita telusuri. Selain itu, banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari jatuh bangunnya perekonomian Cina selama proses panjang tersebut, mulai dari era Mao Zedong yang menerapkan gagasan sosialis-marxisme dan konsep industrialisasi, sampai era Deng Xiaoping yang melakukan pembenahan sistem ekonomi warisan Mao menjadi sistem ekonomi sosialis pasar. Artinya, kemajuan ekonomi Cina tidak terlepas dari jasa para founding fathers negeri Tirai Bambu yang pada saat itu telah menerapkan modernisasi dalam sistem perekonomiannya. Namun, di tengah pengaruh moderninasi, sebagai negara yang kental dengan tradisi, rupanya kemajuan bangsa Cina juga tidak terlepas dari peran masyarakatnya yang menggiatkan budaya “kerja keras”.

Keterbukaan yang ditawarkan oleh Deng tidak menjadikan bangsa Cina surut berkompetisi, tetapi justru semakin “garang” dalam percaturan bisnis. Etos kerja bangsa Cina yang tinggi sudah ditanamkan sejak kecil dalam keluarga. Budaya kerja keras itu merupakan cerminan dari ajaran Konfusianisme, suatu gagasan humanisme yang lahir di Cina, jauh sebelum masa Renaissance bergulir. Ajaran konfusianisme digagas oleh Kong Hu-cu, (551 SM). Dia, bersama-sama dengan Lao Tze (lahir 604 SM), dipandang sebagai penggagas pemikiran falsafah di Cina. Ada dua nilai yang teramat penting menurut konsep filsafat Kong Hu-cu, yaitu “Ren” dan “Li”. “Ren” sering diterjemahkan dengan kata “cinta”, tapi sebetulnya lebih kena diartikan “keramahtamahan dalam hubungan dengan seseorang”.

Selain itu, “Ren” juga dapat diartikan sebagai “Sikap hormat terhadap kehidupan pribadi, kesungguhan menangani persoalan, dan setia menjalankan tugas serta kewajiban yang berhubungan dengan kehidupan sosial”. Sementara itu, “Li” dilukiskan sebagai gabungan antara tingkah laku, ibadah, adat kebiasaan, tatakrama, dan sopan santun (Hart, 1982:54). Menurut Kog Hu-cu, menjadi manusia sebenarnya adalah “belajar untuk kepentingan diri sendiri”.

Namun, selama pemerintahan Mao, ideologi Kong Hu-Cu diperangi karena dianggap sempit dalam memandang “kefamilian”. Sebaliknya, Mao justru membuat analisis brilian Marxis-Leninis tentang hubungan antara “knowing”(teori) dan “doing” (praktis) yang telah menjadi subjek kontroversi dalam filsafat Cina sejak era Konfusianisme hingga Sun Yat-sen (Wai Lu, 1959:140).

Sistem Ekonomi dan Implementasi Humanisme di Cina Jika kita melihat sejarah perekonomian Cina, maka ada perbedaan dan corak pembangunan ekonomi yang menarik untuk dikaji. Diawali dengan era Mao Zedong (1949-1976), Cina menerapkan sistem ekonomi tertutup dengan peraturan yang sangat ketat. Mao percaya bahwa pembangunan di Cina akan berhasil melalui strategi zili geng sheng (berdiri di atas kaki sendiri). Kemudian, setelah Mao wafat, tampillah Deng Xiaoping yang membawa gagasan “sistem ekonomi sosialis pasar”. Deng cenderung menjalankan strategi Yangwei Zhongyong (mengandalkan kemampuan luar negeri untuk kepentingan dalam negeri Cina). Dalam hal ini, Deng melihat hubungan baik dan kerjasama ekonomi dengan AS dan negara-negara Barat sebagai landasan untuk mewujudkan cita-cita “Cina yang modern dan kuat”. Tujuan demikian dituang ke dalam kebijaksanaan Sige Xiandaihua (empat modernisasi) dan Kaifang zhengzi (politik pintu terbuka) (Sukma, 1995:44). Sejak 1949, sebagai negara sosialis, secara tradisional Cina menyepakati pandangan sosialis dan negara dunia ketiga mengenai konsep HAM yang menekankan pada aspek ekonomi dan sosial.

Pada saat kebanyakan negara barat menekankan hak-hak universal dan penekanan pada hak sipil dan politik, Cina justru menekankan aspek sosial dan ekonomi sebagai prioritas. Hak sosial dan ekonomi tersebut bersifat kolektif dan berada di bawah kedaulatan negara. Hal ini dapat kita lihat ketika Cina berada di bawah kepemimpinan Mao Zedong. Mao memahami HAM dalam kerangka Marxis yang berarti menjadi subordinat dan isu kelas (www.digilb.ui.ac.id). Sebaliknya, gagasan yang ditawarkan Deng, walaupun masih dalam kerangka sosialis, agak berbeda karena lebih mengedepankan keterbukaan. Deng pernah mengatakan “The Human Right Issue is the crux of struggle between the world two social systems. If we loose the battle on the human right front, everything will be meaningless to us”. Artinya, baik Mao maupun Xiaoping, sudah “aware” dengan isu humanisme di Cina sebagai landasan gagasan mereka.


" Gak peduli kucing itu hitam ataupun putih, selama ia bisa menangkap tikus maka ia adalah kucing yang hebat " ( Deng Xiao Ping )

dari berbagai sumber*

# TaN

The Sun Tzu Quotes

The Sun Tzu Quotes

 

All men can see these tactics whereby I conquer, but what none can see is the strategy out of which victory is evolved.
Sun Tzu

All war is based on deception.
Sun Tzu

All war is deception.
Sun Tzu

All warfare is based on deception.
Sun Tzu

Be extremely subtle, even to the point of formlessness. Be extremely mysterious, even to the point of soundlessness. Thereby you can be the director of the opponent's fate.
Sun Tzu

Can you imagine what I would do if I could do all I can?
Sun Tzu

Confront them with annihilation, and they will then survive; plunge them into a deadly situation, and they will then live. When people fall into danger, they are then able to strive for victory.
Sun Tzu

For them to perceive the advantage of defeating the enemy, they must also have their rewards.
Sun Tzu

For to win one hundred victories in one hundred battles is not the acme of skill. To subdue the enemy without fighting is the acme of skill.
Sun Tzu

He who is prudent and lies in wait for an enemy who is not, will be victorious.
Sun Tzu

He who knows when he can fight and when he cannot, will be victorious.
Sun Tzu

Hence that general is skilful in attack whose opponent does not know what to defend; and he is skilful in defense whose opponent does not know what to attack.
Sun Tzu

If ignorant both of your enemy and yourself, you are certain to be in peril.
Sun Tzu

If our soldiers are not overburdened with money, it is not because they have a distaste for riches; if their lives are not unduly long, it is not because they are disinclined to longevity.
Sun Tzu

If you are far from the enemy, make him believe you are near.
Sun Tzu

If you know the enemy and know yourself you need not fear the results of a hundred battles.
Sun Tzu

In the practical art of war, the best thing of all is to take the enemy's country whole and intact; to shatter and destroy it is not so good.
Sun Tzu

Invincibility lies in the defence; the possibility of victory in the attack.
Sun Tzu

It is essential to seek out enemy agents who have come to conduct espionage against you and to bribe them to serve you. Give them instructions and care for them. Thus doubled agents are recruited and used.
Sun Tzu

It is only the enlightened ruler and the wise general who will use the highest intelligence of the army for the purposes of spying, and thereby they achieve great results.
Sun Tzu


Know thy self, know thy enemy. A thousand battles, a thousand victories.
Sun Tzu

Know your enemy and know yourself and you can fight a hundred battles without disaster.
Sun Tzu

Now the reason the enlightened prince and the wise general conquer the enemy whenever they move and their achievements surpass those of ordinary men is foreknowledge.
Sun Tzu

Of all those in the army close to the commander none is more intimate than the secret agent; of all rewards none more liberal than those given to secret agents; of all matters none is more confidential than those relating to secret operations.
Sun Tzu

Opportunities multiply as they are seized.
Sun Tzu

Pretend inferiority and encourage his arrogance.
Sun Tzu

Prohibit the taking of omens, and do away with superstitious doubts. Then, until death itself comes, no calamity need be feared.
Sun Tzu

Regard your soldiers as your children, and they will follow you into the deepest valleys; look on them as your own beloved sons, and they will stand by you even unto death.
Sun Tzu

Secret operations are essential in war; upon them the army relies to make its every move.
Sun Tzu

Strategy without tactics is the slowest route to victory. Tactics without strategy is the noise before defeat.
Sun Tzu

Supreme excellence consists in breaking the enemy's resistance without fighting.
Sun Tzu

The enlightened ruler is heedful, and the good general full of caution.
Sun Tzu

The general who advances without coveting fame and retreats without fearing disgrace, whose only thought is to protect his country and do good service for his sovereign, is the jewel of the kingdom.
Sun Tzu

The general who wins the battle makes many calculations in his temple before the battle is fought. The general who loses makes but few calculations beforehand.
Sun Tzu

The good fighters of old first put themselves beyond the possibility of defeat, and then waited for an opportunity of defeating the enemy.
Sun Tzu

The opportunity to secure ourselves against defeat lies in our own hands, but the opportunity of defeating the enemy is provided by the enemy himself.
Sun Tzu

The quality of decision is like the well-timed swoop of a falcon which enables it to strike and destroy its victim.
Sun Tzu

The skilful employer of men will employ the wise man, the brave man, the covetous man, and the stupid man.
Sun Tzu


The supreme art of war is to subdue the enemy without fighting.
Sun Tzu

There has never been a protracted war from which a country has benefited.
Sun Tzu

There is no instance of a nation benefitting from prolonged warfare.
Sun Tzu

Thus it is that in war the victorious strategist only seeks battle after the victory has been won, whereas he who is destined to defeat first fights and afterwards looks for victory.
Sun Tzu

Thus, what is of supreme importance in war is to attack the enemy's strategy.
Sun Tzu

To fight and conquer in all our battles is not supreme excellence; supreme excellence consists in breaking the enemy's resistance without fighting.
Sun Tzu

To see victory only when it is within the ken of the common herd is not the acme of excellence.
Sun Tzu

Victorious warriors win first and then go to war, while defeated warriors go to war first and then seek to win.
Sun Tzu

When envoys are sent with compliments in their mouths, it is a sign that the enemy wishes for a truce.
Sun Tzu

You have to believe in yourself.
Sun Tzu


# TaN

Info Buku ; Confucius and Confucianism : Question and Answers

Confucius and Confucianism : Question and Answers

(Khonghucu dan Konfusianisme : Tanya dan Jawab)

Judul buku : Confucius and Confucianism : Question and Answers. Oleh Thomas Hosuck Kang, Ph.D. Confucian Publications, 1977, 280 halaman.

Pengarang, Thomas Hosuck Kang, dilahirkan sebagai seorang Konfusian Korea datang ke Amerika Serikat pada tahun 1958, belajar di Georgetown and Amerika University , spesialisasi pada Studi Konfusianisme dengan gelar Ph.D. dan pendiri pertama Gereja Konfusian dan misi di Amerika Serikat sebagai organisasi sosial (non-profit).

Sementara dia bekerja di Perpustakaan Kongres sebagai seorang ahli informasi Asia, dia mengadakan penelitian mengenai Konfusianisme di Barat dan mengumpulkan bibliografi dari studi tentang Konfusianisme di barat dalam 15 bahasa pada PC data base dengan 62,00 entry dan siap untuk dipublikasikan. Dia mempublikasikan sejarah singkat Studi Konfusianisme di Barat, 1662-1990.Selama empat puluh tahun mengerjakan subjek ini, dia tidak menemukan satupun buku lengkap yang dapat menjawab apa itu Konfusianisme seperti alat referensi bacaan pada umumnya.

Arthur Walley sebagai seorang Sarjana Konfusian luar, salah seorang penterjemah Analects (LunGi), dengan bijak berkata keduanya dengan jenaka dan lucu, seseorang dapat membangun setengah lusin Khonghucu yang lain diluar Analects dengan mengumpulkan kisah pada perkembangan negara-negara yang berbeda. Oleh karena itu mengenai Khonghucu kita harus berhati-hati untuk Khonghucu yang mana kita berbicara. Dia mempunyai banyak sisi/muka sebagai agama, filsafat, etika, sosiologi dan sebagainya.

Seperti untuk Konfusianisme, adalah sebuah warisan dari Timur, suatu turunan (genetik) kebudayaan yang telah memindahkan kebudayaan Konfusianisme dari generasi ke generasi dan dari negara ke negara selama 2,500 tahun untuk membuat wilayah kebudayaan Konfusianisme, masyarakat Asia Timur sekarang hampir mencapai seperempat dari jumlah penduduk dunia bertingkah-laku menurut pengaruh Konfusianisme, apakah mereka percaya atau tidak Konfusianisme adalah suatu agama. Kebudayaan Konfusianisme ini adalah merupakan sikap dasar yang unik dari masyarakat timur di Asia Timur, seperti halnya Kristen yang merupakan sikap dasar masyarakat di Barat.

Tambahan lagi pengertian "Konfusianisme" dapat diberikan nama untuk segala hal apapun seperti keTuhanan, atheis, pendidikan, kekeluargaan, kebangsaan, ditaktoris, kekuasaan, konservatif, progresip, agresip, regresip, tinjauan kembali, dan demokrasi pada saat ini , kemajuan (modernis), kemanusiaan(humanis), suatu alternatif kapitalisme, dan suatu bentuk masyarakat baru.

Sejak akhir abad ke 19 masyarakat di wilayah budaya Konfusianisme telah menyadari dengan hati yang tulus pada diperkenalkannya ilmu pengetahuan dan budaya materialistis dari Barat dan merasa berhutang budi, saat ini adalah terbalik untuk mengembalikan hutang tersebut dengan semangat warisan Konfusianisme untuk menciptakan suatu warisan baru Timur-Barat bagi umat manusia. Pada kenyataannya, hal ini sudah ditunjukkan oleh rakyat Amerika yang antusias pada pendidikan anak-anak.

Untuk mencakup hal yang penting dari subjek yang luas tersebut, isi buku ini dibagi kedalam 21 subjek seperti berikut:

1. Khonghucu (Confusius); 2. Konfusianisme kuno (Confucian Classics); 3. Konfusianisme (Confucianism); 4. Konfusianisme Baru (Neo-Confucianisme); 5. Apa itu Tao ? (What is the Dao?); 6. Agama (Religion); 7. Ritus dan Tata upacara (Ritus and Ceremonies); 8. Filsafat (Philosophy); 9. Etika (Ethics); 10. Psikologi (Psychology).

11. Pendidikan (Education); 12. Ekonomi (Economy); 13. Konfusianisme di Asia Timur (Confucianism in East Asia); 14. Politik dan Pemerintahan (Politics and Goverment); 15. Aspek hukum (Legal aspect); 16. Sosiologi (Sociology); 17.Ilmu pengetahuan (Science); 18. Seni (Arts); 19. Jembatan Konfusian antara Timur dan Barat (Confucian Bridge between East and West); 20. Kritik terhadap Khonghucu dan Konfusianisme (Criticism on Confucius and Confucianism); 21. Prospek (Prospects). Epilogue.

Buku tersebut dapat dipesan melalui:

Mr. Thomas Hosuck Kang

1318 Randolph St.N.E.

Washington,D.C. 20017 USA.

homepage:http://terpconnect.umd.edu/~tkang/welcome.htm email: tkang@wam.umd.edu

Account no. City Bank

600 Pensylvaania Ave, SE

Washington,D.C. 2003 - aba no.254070116, Account no.6028 3661

"Sebenarnya saya lebih tertarik kepada negara anda ( Indonesia ) karena Agama Khonghucu yang sesungguhnya; negara anda adalah hanya satu-satunya yang meyatakan Khonghucu sebagai agama ke seluruh dunia. Semua negara lainnya sedikit yang menyatakan Khonghucu sebagai agama. Saya sangat marah kepada mereka, dan melawan mereka.

Saya benci kepada intelektual dan sarjana Konfusian yang munafik. Mereka menjual Confucius untuk kehidupan mereka tetapi tidak menghormatinya sama sekali. Semua lembaga akademi mendapatkan pelajaran agama dan termasuk Konfusianisme untuk menyangkal Konfusianisme sebagai agama.

Konfusianisme saya adalah Konfusianisme revolusioner, bukan Konfusianisme tradisional. Anda tahu: Konfusianisme tradisional belajar untuk ujian sipil yang memberikan penghargaan, kekayaan, kesejahteraan dan kekuasaan. Saat ini sistim ujian tersebut sudah dihapuskan, mereka membuang Confucius seperti halnya sepatu yang sudah tak terpakai lagi dan mereka berbicara sesuatu yang bukan tentang Khonghucu (Confucius).

Kalau anda membaca buku saya, Confucius and Confucianism: Question and Answer, anda akan mengetahui apa itu Konfusianisme?

Pusat Tao Konfusianisme saya adalah misi dan gereja Konfusian yang pertama di dunia Barat, suatu lembaga sosial (non profit) yang berada di negara federal Amerika ".

Pengarang, Thomas Hosuck Kang, dilahirkan sebagai seorang Konfusian Korea datang ke Amerika Serikat pada tahun 1958, belajar di Georgetown and Amerika University , spesialisasi pada Studi Konfusianisme dengan gelar Ph.D. dan pendiri pertama Gereja Konfusian dan misi di Amerika Serikat sebagai organisasi sosial (non-profit).

Sementara dia bekerja di Perpustakaan Kongres sebagai seorang ahli informasi Asia, dia mengadakan penelitian mengenai Konfusianisme di Barat dan mengumpulkan bibliografi dari studi tentang Konfusianisme di barat dalam 15 bahasa pada PC data base dengan 62,00 entry dan siap untuk dipublikasikan. Dia mempublikasikan sejarah singkat Studi Konfusianisme di Barat, 1662-1990.Selama empat puluh tahun mengerjakan subjek ini, dia tidak menemukan satupun buku lengkap yang dapat menjawab apa itu Konfusianisme seperti alat referensi bacaan pada umumnya.

Arthur Walley sebagai seorang Sarjana Konfusian luar, salah seorang penterjemah Analects (LunGi), dengan bijak berkata keduanya dengan jenaka dan lucu, seseorang dapat membangun setengah lusin Khonghucu yang lain diluar Analects dengan mengumpulkan kisah pada perkembangan negara-negara yang berbeda. Oleh karena itu mengenai Khonghucu kita harus berhati-hati untuk Khonghucu yang mana kita berbicara. Dia mempunyai banyak sisi/muka sebagai agama, filsafat, etika, sosiologi dan sebagainya.

Seperti untuk Konfusianisme, adalah sebuah warisan dari Timur, suatu turunan (genetik) kebudayaan yang telah memindahkan kebudayaan Konfusianisme dari generasi ke generasi dan dari negara ke negara selama 2,500 tahun untuk membuat wilayah kebudayaan Konfusianisme, masyarakat Asia Timur sekarang hampir mencapai seperempat dari jumlah penduduk dunia bertingkah-laku menurut pengaruh Konfusianisme, apakah mereka percaya atau tidak Konfusianisme adalah suatu agama. Kebudayaan Konfusianisme ini adalah merupakan sikap dasar yang unik dari masyarakat timur di Asia Timur, seperti halnya Kristen yang merupakan sikap dasar masyarakat di Barat.

Tambahan lagi pengertian "Konfusianisme" dapat diberikan nama untuk segala hal apapun seperti keTuhanan, atheis, pendidikan, kekeluargaan, kebangsaan, ditaktoris, kekuasaan, konservatif, progresip, agresip, regresip, tinjauan kembali, dan demokrasi pada saat ini , kemajuan (modernis), kemanusiaan(humanis), suatu alternatif kapitalisme, dan suatu bentuk masyarakat baru.

Sejak akhir abad ke 19 masyarakat di wilayah budaya Konfusianisme telah menyadari dengan hati yang tulus pada diperkenalkannya ilmu pengetahuan dan budaya materialistis dari Barat dan merasa berhutang budi, saat ini adalah terbalik untuk mengembalikan hutang tersebut dengan semangat warisan Konfusianisme untuk menciptakan suatu warisan baru Timur-Barat bagi umat manusia. Pada kenyataannya, hal ini sudah ditunjukkan oleh rakyat Amerika yang antusias pada pendidikan anak-anak.

Untuk mencakup hal yang penting dari subjek yang luas tersebut, isi buku ini dibagi kedalam 21 subjek seperti berikut:

1. Khonghucu (Confusius); 2. Konfusianisme kuno (Confucian Classics); 3. Konfusianisme (Confucianism); 4. Konfusianisme Baru (Neo-Confucianisme); 5. Apa itu Tao ? (What is the Dao?); 6. Agama (Religion); 7. Ritus dan Tata upacara (Ritus and Ceremonies); 8. Filsafat (Philosophy); 9. Etika (Ethics); 10. Psikologi (Psychology).

11. Pendidikan (Education); 12. Ekonomi (Economy); 13. Konfusianisme di Asia Timur (Confucianism in East Asia); 14. Politik dan Pemerintahan (Politics and Goverment); 15. Aspek hukum (Legal aspect); 16. Sosiologi (Sociology); 17.Ilmu pengetahuan (Science); 18. Seni (Arts); 19. Jembatan Konfusian antara Timur dan Barat (Confucian Bridge between East and West); 20. Kritik terhadap Khonghucu dan Konfusianisme (Criticism on Confucius and Confucianism); 21. Prospek (Prospects). Epilogue.

Buku tersebut dapat dipesan melalui:

Mr. Thomas Hosuck Kang

1318 Randolph St.N.E.

Washington,D.C. 20017 USA.

homepage://www.wam.umd.edu/-tkang, email: tkang@wam.umd.edu

Account no. City Bank

600 Pensylvaania Ave, SE

Washington,D.C. 2003 - aba no.254070116, Account no.6028 3661

"Sebenarnya saya lebih tertarik kepada negara anda karena Agama Khonghucu yang sesungguhnya; negara anda adalah hanya satu-satunya yang meyatakan Khonghucu sebagai agama ke seluruh dunia. Semua negara lainnya sedikit yang menyatakan Khonghucu sebagai agama. Saya sangat marah kepada mereka, dan melawan mereka.

Saya benci kepada intelektual dan sarjana Konfusian yang munafik. Mereka menjual Confucius untuk kehidupan mereka tetapi tidak menghormatinya sama sekali. Semua lembaga akademi mendapatkan pelajaran agama dan termasuk Konfusianisme untuk menyangkal Konfusianisme sebagai agama.

Konfusianisme saya adalah Konfusianisme revolusioner, bukan Konfusianisme tradisional. Anda tahu: Konfusianisme tradisional belajar untuk ujian sipil yang memberikan penghargaan, kekayaan, kesejahteraan dan kekuasaan. Saat ini sistim ujian tersebut sudah dihapuskan, mereka membuang Confucius seperti halnya sepatu yang sudah tak terpakai lagi dan mereka berbicara sesuatu yang bukan tentang Khonghucu (Confucius).

Kalau anda membaca buku saya, Confucius and Confucianism: Question and Answer, anda akan mengetahui apa itu Konfusianisme?

Pusat Tao Konfusianisme saya adalah misi dan gereja Konfusian yang pertama di dunia Barat, suatu lembaga sosial (non profit) yang berada di negara federal Amerika ".


# TaN

Yi Ching About the Art of Wealth

Menjadi menteri sepertinya gampang. Namun sesungguhnya sangat luarbiasa kompleks. Disebut namanya saja sudah sangat beruntung apalagi jika sampai dipilih.

Jauh lebih mudah menjadi kaya asal tahu seninya. Itulah yang dipercaya seorang Robert T. Kiyosaki yang dalam bukunya "Rich Dad, Poor Dad" menyampaikan bahwa untuk menjadi kaya hanya diperlukan sikap mental orang kaya. Sementara Peter Spann yang terkenal di Australia menekankan perubahan cara pandang, pengembangan identitas, teknik dan trick investasi.

Bagaimana pendapat Yi Ching (kitab perubahan, sumber dari segala sumber Feng Shui) mengenai masalah human luck ini? Tanpa bermaksud mengecilkan interrelationship konsep trinitas keberuntungan yaitu Heaven Luck, Earth Luck dan Human Luck-Yi Ching percaya bahwa manusia memiliki kebebasan dalam menentukan pilihan.

Oleh karena itu manusia memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi kaya. Perbedaan orang yang sukses dan tidak hanya karena masalah kesalahan dalam menentukan pilihan. Why? Karena keterbatasan waktu sehingga tidak memiliki kesempatan untuk mengkoreksi kesalahan. Seorang tokoh marketing berkata bahwa semua orang pasti sukses, apapun kesalahan yang dilakukan jika diberi waktu yang tak terbatas. Oleh karena terbatasnya waktu maka orang membutuhkan Guidance agar tidak melakukan kesalahan –kesalahan yang tidak perlu.

Apakah guidance dari Kitab Perubahan tersebut?
Sebelum menjawab pertanyaan itu kita perlu sedikit mengenal Yi Ching. Ada dua aliran Yi Ching.

Pertama aliran Taoist sering juga disebut Symbol & Number School. Aliran ini mementingkan kalkulasi garis dan hubungan antar garis serta numerology dan fenomena yang diwakili oleh symbol tersebut. Sepintas aliran ini paling mudah di cerna karena memiliki aturan matematika. Akan tetapi menginterpretasi fenomena yang diwakilinya adalah luar biasa….sulit. Karenanya sangat sedikit orang yang berhasil, sehingga orang menjadi frustasi. Ujung-ujungnya mereka mengkategorikan seni Taoist ini "mistik". Ini adalah perilaku umum karena scientist di dunia modern pun bersikap demikian. Sebagai contoh sampai saat ini scientist tidak dapat memecahkan misteri temuan sebatang besi di India yang memiliki kemurnian 99%. Karena tak ada penjelasan yang masuk akal, para ilmuwan tersebut memberi "label" besi peninggalan prasejarah.

Aliran kedua yang menekankan moralitas dengan Grand Masternya adalah Konfusius, sering juga disebut Moral & Reason School berisi petunjuk pengelolaan negara, sikap penjabat, strategi bertempur sampai aturan-aturan yang harus dilakukan sebagai rakyat. Karena mudah dicerna, pengaruh Yi Ching aliran konfusius jauh lebih besar dibanding aliran Taoist.

Buktinya siapa yang tak kenal The Art of War-nya Sun Tzu. Buku ini adalah refleksi nyata ajaran Yi Ching konfusius yang berlandaskan pada dua Hexagram yaitu Hexagram 51 dan 52.

Hexagram 52 (selanjutnya disebut H52) disebut juga Gen atau diterjemahkan Keeping Still, terdiri dari dua buah Gen Kua (bagi yang belum mengerti harap melihat pada later heaven bagua) yang dilambangkan dengan dua buah gunung. Jika di teliti secara dalam ideograph H52 ini terdiri dari gambar mata (mu) dibagian atas. Dan dibagian bawah adalah perhatian yang sangat detail (bi). Dengan lambang ini saja kita bisa mengambil makna bahwa H52 berbicara tentang planning atau perencanaan. Dua buah lambang gunung kembali menegaskannya karena satu buah gunung saja sudah memiliki arti beristirahat maka dua buah gunung mengandung arti No Action atau Planning.

Hexagram 51 (selanjutnya disebut H51) disebut juga Zhen atau diterjemahkan Taking Action, terdiri dari dua buah Zhen Kua yang dilambangkan dengan dua buah guntur. Ideograph H51 agak kompleks, bagian atas secara singkat mengandung arti hujan, awan dan guntur. Bagian bawah adalah karakter Chen. Dalam sistem kalender Tiongkok, Chen adalah periode dimana petir/guntur paling aktif yang menandai kedatangan musim semi. Serangga keluar dari sarangnya dan petani siap bertanam. Singkatnya H51 berbicara tentang bertindak atau implementasi dari perencanaan.

Kedua Hexagram inilah yang menjadi inti The Art of War begitu juga inti The Art of Wealth yang akan saya uraikan dibawah ini. Jika bertempur membutuhkan perencanaan maka menjadi kaya perlu juga. Minimal anda harus melakukan "analisis situasi" terhadap diri anda sendiri baik faktor internal seperti masalah unsur kelahiran dan faktor eksternal seperti pendidikan, koneksi dan trust. Faktor internal harus dianalisis komposisi unsur, elemen apa yang favorable dan unfavorable.

Seperti yang telah kita ketahui, alam memiliki lima jenis energi yang direprentasikan dengan lambang fire, earth, metal, water dan wood. Jika umumnya lima elemen dipandang sebagai sebuah mekanisme dan sistem energi, Master Taoist kuno melihat lima elemen ini sebagai "pencuri kehidupan". Dalam scripts Taoist kuno, "Classic on Yin Convergence"-dikatakan: "Nature has five robbers, those who see them thrive". Apa maksudnya ini? Scripts ini menekankan jika kita sebagai manusia dapat lolos dari pencuri ini maka akan berhasil. Untuk mengerti hal ini pertama kali kita perlu mengidentifikasi siapa pencuri itu? Sesuai dengan aturan lima unsur, bagi metal api adalah pencuri, bagi kayu metal adalah pencuri, bagi api air adalah pencuri, dst. Bagaimana aplikasi teori ini dalam kehidupan?

Selain perlu merencanakan kehidupan sesuai dengan kekuatan elemen, Anda juga perlu merencanakan tindakan dan pikiran yang sejalan dengan ciri utama dari elemen. Jika energi fokus atau konsentrasi dapat direpresentasikan dengan metal maka pikiran yang bercabang adalah pencurinya. Jika Anda dengan karakteristik strong metal maka secara naluri anda memiliki kemampuan "mengumpulkan". Oleh karena itu pikiran yang tidak fokus adalah pencurinya karena kemampuan pengumpulan akan sejalan dengan pikiran yang fokus. Seandainya Anda tahu kapan dan dimana pikiran Anda bercabang maka Anda telah menangkap robber. Setelah robber ditangkap Anda dapat berkarya secara maksimum sesuai dengan bakat alami Anda.

Hexagram kedua berkaitan dengan action atau pelaksanaan dari apa yang telah direncanakan. Hal ini memberi dua pelajaran. Pertama perlu memiliki hati teguh dalam melaksanakan apa yang telah direncanakan. Seringkali orang menjadi ragu atau mundur hanya karena sedikit kepahitan. Kedua kecepatan bertindak. Kalau semua faktor telah diperhitungkan dengan matang dan semua langkah-langkah telah disusun dengan baik dan efektif, maka pada waktu yang tepat seseorang harus secepat kilat mengimplementasikan apa yang sudah direncanakan.

Kalau kita perhatikan secara seksama, kedua hexagram ini adalah sebuah kombinasi Yin Yang yang mengandung arti tanpa perencanaan tidak boleh bertindak. Sebaliknya ada perencanaan namun tidak bertindak juga sebuah kesia-siaan. Dalam kehidupan manusia sering kita temui orang yang sukses dan yang tidak. Biasanya orang yang sukses memiliki rencana dan cepat dalam bertindak bahkan pada usia yang sangat muda. Sementara orang yang kurang sukses biasanya sering memiliki rencana namun tidak pernah bertindak atau kelompok lain yang gagal disebabkan bertindak tanpa ada rencana.

"Dalam perencanaan harus seksama dan rinci…. Bila menyerang harus melanda seperti guntur". Perkataan Sun Tzu ini bukan hanya berlaku untuk strategi perang tapi juga semua aspek kehidupan manusia termasuk The Art of Wealth karena sukses adalah urusan yang sangat vital buat siapa saja.

Strategi Sun Zi

Click here to download:
Strategi Sun Zi.docx (16 KB)
(download)

# TaN

Nasionalisme agama Khonghucu

Walaupun kini agama Khonghucu sudah diakui kembali

sebagai salah satu agama resmi di Indonesia, tapi tak

ada salahnya jika kita merevaluasi ulang mengapa pada

jaman Orba agama Khonghucu sampai didiskreditkan rezim

Soeharto. Salah satu alasan yang sering dilontarkan

adalah mengenai nasionalisme orang-orang

Tionghoa di Indonesia.

 

Karena itu saya akan mencoba

menjawab tuduhan ini dengan mengambil

contoh-contoh dari sejarah yang benar-benar terjadi :

Leluhur Kong Zi adalah para kaisar dinasti Shang

(1766 SM s.d. 1122 SM). Setelah dinasti Shang runtuh

dan digantikan oleh dinasti Zhou (1122 SM s.d. 256 SM),

para keturunan kaisar dinasti Shang ini diangkat

menjadi rajamuda negeri Song (sekarang di propinsi

Henan). Karena negeri Song mempunyai tradisi

unik yakni menyerahkan tahta kepada saudara muda

dan bukannya kepada putranya, maka leluhur Kong Zi

yang bernama Fufu He yang tak lain adalah putra

rajamuda Song Xi Gong tidak menjabat sebagai rajamuda

negeri Song lagi.

 

Keturunan Fufu He yang bernama Kong Fujia dan

menjabat sebagai Menteri Perang negeri Song adalah

orang pertama yang menggunakan marga Kong. Keturunan

Kong Fujia generasi ke 4 yakni Kong Fangshu kemudian

pindah ke negeri Lu (sekarang di propinsi Shandong).

Kong Fangshu sendiri terhitung kakek buyut dari Kong

Zi ini.

 

Bandingkan keadaan Kong Zi ini dengan para Huaqiao di

Indonesia yang seringkali mendapat cap tidak

nasionalis terhadap tanah air baru mereka. Leluhur

Kong Zi adalah orang Song yang kemudian pindah ke

negeri Lu, jadi Kong Zi terhitung orang Song

perantauan dan ia terang-terangan mengakui asal

usulnya sebagai keturunan kaisar dinasti Shang.

Tapi saat negeri Lu terancam diserang oleh negeri

lain, Kong Zi segera mengutus murid-muridnya untuk

menyelamatkan negeri Lu. Ran You pernah memimpin

pasukan Lu mengalahkan pasukan musuh sedang pada

kesempatan lain Zi Gong diutus untuk menyelamatkan

negeri Lu melalui jalur diplomasi. Jadi jelas disini

bahwa Kong Zi menganggap negeri Lu ini sebagai tanah

airnya dan membelanya mati-matian. (Sebagian tambahan

disini, negeri Lu diperintah oleh keturunan kaisar

dinasti Zhou yang dulunya meruntuhkan dinasti Shang,

leluhur Kong Zi sendiri).

 

Masih ada contoh nasionalisme dalam pandangan agama

Khonghucu yang jelas-jelas melampaui batas negara.

 

Kejadian ini terjadi di Jepang dan kini kisah ini

telah menjadi legenda nasionalisme ala agama

Khonghucu.

 

Yamazaki Ansai (1619 s.d. 1682) adalah penganut agama

Khonghucu mashab Zhu Xi. Pada suatu hari dia ditanyai

oleh muridnya, Guru, jika seandainya Kong Zi dan

Meng Zi memimpin pasukan dari Tiongkok dan menyerang

negeri kita. Apa yang engkau lakukan sebagai penganut

mereka ?

 

Yamazaki menjawab dengan tenang, Saya akan

mengenakan baju perang dan mengangkat senjata

menghadapi mereka. Saya bahkan akan berusaha menangkap

mereka berdua hidup-hidup ! Seandainya ini benar

terjadi, saya yakin Kong Zi dan Meng Zi pasti akan

menghargai tindakan saya untuk menunaikan tugas saya

untuk kaisar Jepang dan negeri ini.

 

Dari jawaban ini sudah sangat jelas bagaimana

pandangan umat agama Khonghucu tentang nasionalisme.

Sebaliknya saya ini menanyakan pertanyaan yang sama

kepada saudara-saudara kita yang beragama lain

(sekedar untuk menguji ketulusan mereka), Jika

seandainya Nabi Muhammad memimpin pasukan muslim

menyerang Indonesia, apa yang akan dilakukan ?

Menyerah atau melawan Nabi Muhammad ? Begitu juga jika

Paus dari Vatikan memimpin pasukan katolik menyerang

Indonesia, apakah yang akan dilakukan saudara kita

yang beragama Katolik ?

Sejarah Perkembangan Agama Khonghucu di Indonesia

Click here to download:
KHC.docx (50 KB)
(download)

# TaN

Afterlife, Keunggulan atau Kelemahan Agama Khonghucu?

Click here to download:
Afterlife.docx (20 KB)
(download)

By : Sugiaman Gonassis

E-Book 大學/The Great Learning/Ajaran Besar/Da Xue

Click here to download:
Confucius-TheGreatLearning new.pdf (220 KB)
(download)

Special Thanks to Yonas Huang Wirawan