GEMAKU

( Generasi Muda Khonghucu Indonesia)

Archive for

December 2010

Sumbangan Sistem Kekeluargaan Konfusianisme dalam Perekonomian

Peneropong: Postinus Gulö. Judul artikel: Political Implications of Confucian Familism. Penulis: Antonio L. Rappa & Sor-Hoon Tan. Jurnal&Volume: Asian Philosophy, Vol. 13, Numbers 2/3, July/November 2003. Penerbit: Carfax Publishing, Taylor & Francis Group

Konteks artikel ini adalah perkembangan Cina di Singapura. Dalam artikel ini penulis mau menunjukkan bahwa sistem paham kekeluargaan Konfusianisme cocok dengan visi dan misi KBE (Knowledge-Based Economy), yang sangat membantu perekonomian Singapura ke arah yang lebih baik. Penulis melihat bahwa sistem kekeluargaan Konfusian telah merasuk ke sistem politik keperintahan Cina. Tetapi ada yang janggal: terjadi penyimpangan tafsiran yang menggiring masyarakat Cina pada sistem otoriter yang sebenarnya tidak dikehendaki oleh Konfusius. Dengan kata lain, sistem kekeluargaan yang diidealkan oleh Konfusius telah disalah-artikan atau disalah-tafsirkan. Walaupun ada banyak sub judul dalam artikel ini, tetapi saya mencoba merangkum ide utama penulis dalam uraian-uraian yang saya tampilkan berikut ini.

Ideologi dan Paham Kekeluargaan Bagi Cina

Paham kekeluargaan Cina punya andil dalam perubahan dan pembangunan sosio-ekonomi Cina-Singapura. Keluarga bagi Cina adalah pusat worldview. Oleh karena itu, keluarga menjadi semacam ideologi (=familism). Sistem keluarga Cina dipengaruhi oleh paham kekeluargaan Konfusius. Menurut Olga Lang, orangtua dalam sistem keluarga Cina berkewajiban mengajari anggota keluarganya tentang mekanisme Negara agar mereka bisa menerima ororitas Negara. Lucian Pye melihat bahwa kultur politik Cina menekankan interpendensi antara pemerintah dan keluarga. Karena, dalam masyarakat tradisional Cina, keluarga berperan untuk mengurangi kekacauan dalam institusi-institusi public, orangtua selalu menekankan order sosial dan kesejahteraan setiap anggota keluarga.

Relationship merupakan motor penggerak dalam politik ideologi kekeluargaan Cina. Implikasi politik dari sistem ini adalah bahwa dalam membangun ekonomi Cina, yang ditekankan adalah jaringan, relasi (untuk saling menolong). Kinship networks (jaringan kekeluargaan), menjadi pilar paradigma baru dalam kerangka kerja ekonomi Cina. Selain itu, yang mengakibatkan Cina mampu menguasai perekonomian secara global adalah etos kerja yang menekankan keuletan dan kerajinan. Ada tiga penjelasan etos kerja.

Pertama, dalam sistem keluarga Cina, etos kerja telah ditanamkan kepada anak-anak sejak kecil. Bagi Cina, kerja dihubungkan dengan kumpulan nilai yang kompleks, yang mencakup pengorbanan diri, rasa percaya, dan hemat yang dipandang sebagai dasar terakumulasinya kekayaan.

Kedua, etos kerja Cina berorientasi kelompok. Setiap individu berpartisipasi dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga, kemudian untuk kesejahteraan masyarakat.

Ketiga, orang Cina bekerja keras untuk mendapatkan imbalan materi. Dalam komunitas Cina perantauan (seperti di Singapura), kemakmuran, kenyamanan, dalam usia lanjut, menduduki posisi sentral dalam persepsi Cina tentang kehidupan yang baik.

Bentuk Ideal Keluarga dalam Ideologi Familistik

Awalnya, bentuk ideal Cina adalah joint family: membangun ikatan kekeluargaan yang terdiri dari lima keturunan yang hidup secara bersama-sama dalam satu atap, sharing bersama, satu dapur bersama, saling berbagi keuntungan serta saling membantu, yang dikendalikan oleh seorang kepala keluarga. Pemerintah kekaisaran Cina tradisonal mengadopsi sistem kekeluargaan ini menjadi bentuk ideal untuk mencapai harmoni dalam sistem pemerintah. Tetapi secara defacto, sistem kekeluargaan yang dikendalikan oleh seorang kepala keluarga dan pemerintahan yang dikendalikan oleh monarkhi, mengakibatkan Cina terjerumus dalam sistem kekeluargaan dan pemerintahan yang sangat feodal (dan hal ini bertolak belakang dengan visi Konfusius yang selalu menekankan dimensi etika dalam menjalankan otoritas). Baru pada zaman dinasti Ming, sistem keperintahan yang feodal lamban laun mulai ditinggalkan. Sistem keluarga a la Konfusian menekankan etika kesalehan, sopan santun, keutamaan, menghargai orang lain. Pada abad 20-an, yang berkembang di dalam masyarakat Cina justru nuclear family (keluarga inti) dan stem family.

Kedua sistem kekeluargaan ini membangun jaringan kekeluargaan (kinship networks) yang lebih luas, tidak semata-mata secara bilogis tetapi jaringan kekeluargaan atas dasar kebajikan-etika. Banyaknya anggota keluarga dalam satu atap pun berkurang. Karena pada era itu, sistem yang cocok dengan bentuk ideal keluarga Cina (menurut kaum terpelajar Konfusian) adalah sistem 3 generasi (orangtua, anak, dan kakek-nenek). Pemerintah Singapura mempromosikan sistem 3 generasi ini dengan membangun rumah bagi mereka yang baru menikah dan ingin tinggal bersama dalam sistem 3 generasi. Program pemerintah semacam ini, sangat mendukung kesejahteraan rakyat Singapura, terutama mereka yang kesulitan mendapat tempat tinggal (rumah).

Keterbukaan Jaringan Kekeluargaan Konfusian Vs Ketertutupan Siklus KekeluargaanDengan menutip pendapat Olga Lang, penulis mengatakan bahwa hubungan antara tiga dan lima keluarga a la Konfusian merupakan kunci relasi-relasi: ayah-anak, suami-istri, adik-kakak (sistem 3 generasi) dan sistem 5 generasi (ayah-anak, suami-istri, adik-kakak, kakek-cucu lelaki, dan paman-kemenakan lelaki). Konfusian lebih condong pada sistem 3 generasi. Bagi Konfusius, relasi antara ayah-anak, suami istri dan adik-kakak, seharusnya seperti itu relasi yang dibangun oleh aparat pemerintah (relasi kaisar-menteri, relasi menteri-rakyat, relasi kaisar-rakyat). Paham kekeluargaan Konfusian menekankan relationship atas dasar etika bukan relasi secara bilogis. Hal ini sangat cocok dengan KBE. Menurut Konfusius, walaupun hidup dalam satu atap, sharing secara bersama-sama belum tentu terbangun rasa solidaritas tanpa disertai sikap yang didasarkan pada moralitas (keutamaan). Oleh karena itu, penulis dengan merunut pada pendapat Konfusius, keluarga Cina idealnya adalah sistem relation-based characteristic dan bukan group-based characteristic (yang cenderung tertutup seperti sistem keluarga Cina yang berkembang di Jepang). Relation-based lebih menekankan kreativitas seseorang dalam mengubah hidupnya; oleh karena itu, karakter ini cocok dengan KBE.

Walaupun Konfusius menawarkan sistem kekeluargaan yang berbasis pada moralitas tetapi rupa-rupanya, masyarakat Cina ada yang menafsir ajaran Konfusius menjadi sangat kaku. Hal itu terjadi (misalnya) ketika orang Cina mengidentikkan family dengan jia. Jia adalah kepala keluarga yang bersifat otoriter, segalanya dia yang menentukan. Ajaran tentang jia yang menggiring Cina ke sistem tradisional keluarga yang subordinasi. Ketika seorang kaisar atau pemerintah memberlakukan paham ini dalam sistem keperintahan-an, saat itu Cina terperangkap dalam sistem pemerintah yang tirani, otoriter; sehingga demokrasi sulit mendapat tempat. Oleh karena itu, W. J. F. Jenner menyebut the Chinese family sebagai sebuah struktur yang otoiter.

Familial and Governmental Authoritarianism

Bagi Cina, the family was the state in miniature, the state the family writ large. Itu sebabnya Max Weber menyebut Cina sebagai “familistic state”. Penulis melihat bahwa dinasti Han yang lebih setia pada ajaran Konfusius. Menurut penulis artikel ini, akibat dari paham keluarga Cina yang ditafsirkan secara berbeda (salah) dengan apa yang dianjurkan oleh Konfuisus tentang sistem keluarga 3 generasi, Cina pernah mengalami krisis karena memberlakukan sistem three tyrannies (ruler, the father, and the husband). Three Tyrannies kemudian berkembang menjadi the three bonds (dalam bahasa Cina, sangang). The three bonds terdiri dari: relasi rulers-ministers; fathers-sons; and husbands-wifes. Tetapi rupanya paham ini berkembang lagi menjadi the three accordances atau three services: minister melayani ruler, anak melayani bapaknya, dan istri melayani suaminya (jadi tidak resiprokal, hanya pelayanan searah saja!). para pengagum three services, menganggap ini sumber dari segala keteratutan. Secara defacto, Paham three services masih sejalan dengan sistem tradisional Cina yang menekankan filial obligation dan filial piety. Menurut penulis, three services tidaklah cocok dengan KBE.

Sistem three services tidak bersifat resiprokal sebagaimana yang diajarkan oleh Mencius (salah seorang murid Konfuisus). Mencius mengatakan: jika seorang pangeran merawat para pembantunya seperti tangan dan kakinya, mereka (para pembantunya) akan merawat pangeran itu seperti perut dan hati mereka. Jika pangeran merawat para pembantunya seperti kuda dan anjingnya, mereka akan merawatnya seperti seorang yang gila. Dan, jika seorang pangeran melihat para pembantunya seperti lumpur dan rerumputan, mereka juga akan melihat pangeran itu seperti seorang lawan.

Menurut Mencius, Konfusius mengajarkan bahwa keteraturan sosio-politik terjadi ketika ruler berkelakuan seperti ruler, minister berkelakuan seperti minister, dan father berkelakukan seperti father dan son berkelakukan seperti son; menurut Konfusius, hal ini yang ia sebut sebagai sumber knowledge, etika. Konfusian dari suku Han melihat bahwa Yin-Yang mengandung sistem resiprokal. Yin diidentikkan dengan minister, son and wife sedangkan Yang diidentikkan dengan ruler, father, husband. Oleh karena itu, three bonds bagi suku Han harus dilihat seperti relasi Yin-Yang.

Melihat uraian di atas, jelas bahwa Konfusius menolak sistem otoriter. Konfusius memberi tekanan pada saling adanya relasi secara etika dan bukan pada control kekuasaan yang otoriter. Seorang murid Konfusius, Xunzi mengatakan bahwa jika setiap orang bersikap hormat, tertib, tanpa cela, menghargai orang lain, saat itulah terjadi bahwa setiap orang bersaudara. Dalam sistem reciprocity, sistem absolut tidak berlaku. Karena dalam sistem reciprocity yang ditekankan adalah fleksibilitas, keutamaan (virtue). Dan, kekuatan relasi yang cocok dalam KBE tidak terletak dalam sistem kekuasaan absolut (husband, father, and ruler) melainkan pada authority yang membangun pengetahuan etika.

Perbedaan antara Authoritative Action dan Authoritarian Action
Menurut Antonio L. Rappa, Cs (Penulis artikel ini), dalam filsafat Cina, authoritative action memiliki sisi positif karena:

Pertama, dalam memangku otoritas-jabatan, tidak dibenarkan sikap-sikap yang mengorbankan kebebasan individu. Akibat positifnya adalah bahwa rakyat menghormati pemegang otoritas-jabatan secara tulus.

Kedua, pemegang authoritative adalah orang yang walaupun dapat melihat kesempatan untuk mengais keuntungan dan bahaya kerugian, pemegang authoritative tidak akan membohongi rakyat dan sekutunya.

Ketiga, untuk menjalankan otoritas tidak dibenarkan sikap-sikap yang memaksa.

Keempat, the teacher’s authority dalam Konfusianisme merupakan paradigma. Menurut Konfusius, seseorang yang memiliki otoritas harus berani menjadi seorang guru. Oleh karenanya, menurut Xunzi (murid Konfusius) kaisar dan ruler dalam perspektif Konfusius adalah teacher. Sejalan dengan itu, Mencius (murid Konfusius) mengatakan bahwa cara mengajar yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah menolong seorang murid menemukan dan menyadari keunggulan dan talentanya. Dalam sistem pengajaran semacam ini, memungkinkan para murid mengolah dirinya sendiri.

Kelima, dalam authoritative action, seorang raja dan ruler harus memiliki kebijaksanaan; dan menurut Xunzi, raja yang bijaksana adalah Yao dan Shun.

Keenam, Yan Hui (murid favorit Konfusius) mengatakan bahwa Konfusius adalah contoh guru dan ruler yang baik, karena beliau selalu menekankan dimensi moral dalam bertindak disiplin. Dalam menentukan dan mengambil kebijakan, menurut Konfusius, harus secara co-determine (menentukan secara bersama-sama).

Ketujuh, dalam menjalankan authoritative, pemerintah harus memperhatikan partisipasi dan hasil akhir yang saling dibagikan sehingga ada harmoni (keadilan) secara komunal. Penulis artikel ini melihat bahwa authoritative action-lah yang sangat cocok dalam KBE, karena ruler dan kaisar yang bersedia menjadi seorang guru akan melahirkan pengetahuan secara turun-temurun; sehingga perbaikan ekonomi, semakin berkembang ke arah yang lebih baik.

Sedangkan dalam authoritarian action, yang dominan adalah sisi negatif karena, memberlakukan sistem memaksa, otoriter. Akibatnya, rakyat pun menjalankan kewajibannya secara terpaksa, bukan atas dasar ketulusan. Penulis melihat bahwa dalam paham three bonds, three services (rulers, fathers, and husbands) cenderung ada tindakan otoriter.

# TaN

Deng Xiao Ping mengadopsi ajaran Kong Zi / Confucius untuk memajukan Tiongkok modern

“Reform is China`s second revolution.” (Deng Xiaoping)

“Made in China”, begitulah tulisan yang seringkali penulis temui ketika berjalan-jalan di area pertokoan. Begitu banyak produk Cina yang menjamur di pasaran Indonesia sejak digulirkannya reformasi Cina, mulai dari peniti, pakaian, perkakas rumah tangga, hingga barang elektronik. Tidak hanya menjangkau wilayah timur, pangsa pasar Cina saat ini juga sampai ke wilayah barat, bahkan sebagian besar negara-negara dunia. Tidak mengherankan jika ada pendapat yang mengatakan bahwa Cina telah menjadi negara superpower yang kelak akan menggeser Amerika Serikat. Faktanya, data dari situs harian Kompas (03/03/05) menyebutkan bahwa dalam dua dekade terakhir ini, pertumbuhan ekonomi Cina mencapai 7-8 persen setiap tahun. Kesuksesan ini membawa RRC sebagai negara yang paling maju dan progresif dalam sejarah perkembangan dunia.

Karena kemajuan yang dihasilkannya, Republik Rakyat Cina saat ini menjadi sorotan dunia. Pasalnya, di tengah era globalisasi dan krisis ekonomi dunia yang sempat mengancam, Cina malah melesat jauh meninggalkan negara dunia ketiga lainnya. Kemajuan tersebut tentu saja tidak didapatkan secara instan. Ada dinamika dan proses panjang yang menarik untuk kita telusuri. Selain itu, banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari jatuh bangunnya perekonomian Cina selama proses panjang tersebut, mulai dari era Mao Zedong yang menerapkan gagasan sosialis-marxisme dan konsep industrialisasi, sampai era Deng Xiaoping yang melakukan pembenahan sistem ekonomi warisan Mao menjadi sistem ekonomi sosialis pasar. Artinya, kemajuan ekonomi Cina tidak terlepas dari jasa para founding fathers negeri Tirai Bambu yang pada saat itu telah menerapkan modernisasi dalam sistem perekonomiannya. Namun, di tengah pengaruh moderninasi, sebagai negara yang kental dengan tradisi, rupanya kemajuan bangsa Cina juga tidak terlepas dari peran masyarakatnya yang menggiatkan budaya “kerja keras”.

Keterbukaan yang ditawarkan oleh Deng tidak menjadikan bangsa Cina surut berkompetisi, tetapi justru semakin “garang” dalam percaturan bisnis. Etos kerja bangsa Cina yang tinggi sudah ditanamkan sejak kecil dalam keluarga. Budaya kerja keras itu merupakan cerminan dari ajaran Konfusianisme, suatu gagasan humanisme yang lahir di Cina, jauh sebelum masa Renaissance bergulir. Ajaran konfusianisme digagas oleh Kong Hu-cu, (551 SM). Dia, bersama-sama dengan Lao Tze (lahir 604 SM), dipandang sebagai penggagas pemikiran falsafah di Cina. Ada dua nilai yang teramat penting menurut konsep filsafat Kong Hu-cu, yaitu “Ren” dan “Li”. “Ren” sering diterjemahkan dengan kata “cinta”, tapi sebetulnya lebih kena diartikan “keramahtamahan dalam hubungan dengan seseorang”.

Selain itu, “Ren” juga dapat diartikan sebagai “Sikap hormat terhadap kehidupan pribadi, kesungguhan menangani persoalan, dan setia menjalankan tugas serta kewajiban yang berhubungan dengan kehidupan sosial”. Sementara itu, “Li” dilukiskan sebagai gabungan antara tingkah laku, ibadah, adat kebiasaan, tatakrama, dan sopan santun (Hart, 1982:54). Menurut Kog Hu-cu, menjadi manusia sebenarnya adalah “belajar untuk kepentingan diri sendiri”.

Namun, selama pemerintahan Mao, ideologi Kong Hu-Cu diperangi karena dianggap sempit dalam memandang “kefamilian”. Sebaliknya, Mao justru membuat analisis brilian Marxis-Leninis tentang hubungan antara “knowing”(teori) dan “doing” (praktis) yang telah menjadi subjek kontroversi dalam filsafat Cina sejak era Konfusianisme hingga Sun Yat-sen (Wai Lu, 1959:140).

Sistem Ekonomi dan Implementasi Humanisme di Cina Jika kita melihat sejarah perekonomian Cina, maka ada perbedaan dan corak pembangunan ekonomi yang menarik untuk dikaji. Diawali dengan era Mao Zedong (1949-1976), Cina menerapkan sistem ekonomi tertutup dengan peraturan yang sangat ketat. Mao percaya bahwa pembangunan di Cina akan berhasil melalui strategi zili geng sheng (berdiri di atas kaki sendiri). Kemudian, setelah Mao wafat, tampillah Deng Xiaoping yang membawa gagasan “sistem ekonomi sosialis pasar”. Deng cenderung menjalankan strategi Yangwei Zhongyong (mengandalkan kemampuan luar negeri untuk kepentingan dalam negeri Cina). Dalam hal ini, Deng melihat hubungan baik dan kerjasama ekonomi dengan AS dan negara-negara Barat sebagai landasan untuk mewujudkan cita-cita “Cina yang modern dan kuat”. Tujuan demikian dituang ke dalam kebijaksanaan Sige Xiandaihua (empat modernisasi) dan Kaifang zhengzi (politik pintu terbuka) (Sukma, 1995:44). Sejak 1949, sebagai negara sosialis, secara tradisional Cina menyepakati pandangan sosialis dan negara dunia ketiga mengenai konsep HAM yang menekankan pada aspek ekonomi dan sosial.

Pada saat kebanyakan negara barat menekankan hak-hak universal dan penekanan pada hak sipil dan politik, Cina justru menekankan aspek sosial dan ekonomi sebagai prioritas. Hak sosial dan ekonomi tersebut bersifat kolektif dan berada di bawah kedaulatan negara. Hal ini dapat kita lihat ketika Cina berada di bawah kepemimpinan Mao Zedong. Mao memahami HAM dalam kerangka Marxis yang berarti menjadi subordinat dan isu kelas (www.digilb.ui.ac.id). Sebaliknya, gagasan yang ditawarkan Deng, walaupun masih dalam kerangka sosialis, agak berbeda karena lebih mengedepankan keterbukaan. Deng pernah mengatakan “The Human Right Issue is the crux of struggle between the world two social systems. If we loose the battle on the human right front, everything will be meaningless to us”. Artinya, baik Mao maupun Xiaoping, sudah “aware” dengan isu humanisme di Cina sebagai landasan gagasan mereka.


" Gak peduli kucing itu hitam ataupun putih, selama ia bisa menangkap tikus maka ia adalah kucing yang hebat " ( Deng Xiao Ping )

dari berbagai sumber*

# TaN

The Sun Tzu Quotes

The Sun Tzu Quotes

 

All men can see these tactics whereby I conquer, but what none can see is the strategy out of which victory is evolved.
Sun Tzu

All war is based on deception.
Sun Tzu

All war is deception.
Sun Tzu

All warfare is based on deception.
Sun Tzu

Be extremely subtle, even to the point of formlessness. Be extremely mysterious, even to the point of soundlessness. Thereby you can be the director of the opponent's fate.
Sun Tzu

Can you imagine what I would do if I could do all I can?
Sun Tzu

Confront them with annihilation, and they will then survive; plunge them into a deadly situation, and they will then live. When people fall into danger, they are then able to strive for victory.
Sun Tzu

For them to perceive the advantage of defeating the enemy, they must also have their rewards.
Sun Tzu

For to win one hundred victories in one hundred battles is not the acme of skill. To subdue the enemy without fighting is the acme of skill.
Sun Tzu

He who is prudent and lies in wait for an enemy who is not, will be victorious.
Sun Tzu

He who knows when he can fight and when he cannot, will be victorious.
Sun Tzu

Hence that general is skilful in attack whose opponent does not know what to defend; and he is skilful in defense whose opponent does not know what to attack.
Sun Tzu

If ignorant both of your enemy and yourself, you are certain to be in peril.
Sun Tzu

If our soldiers are not overburdened with money, it is not because they have a distaste for riches; if their lives are not unduly long, it is not because they are disinclined to longevity.
Sun Tzu

If you are far from the enemy, make him believe you are near.
Sun Tzu

If you know the enemy and know yourself you need not fear the results of a hundred battles.
Sun Tzu

In the practical art of war, the best thing of all is to take the enemy's country whole and intact; to shatter and destroy it is not so good.
Sun Tzu

Invincibility lies in the defence; the possibility of victory in the attack.
Sun Tzu

It is essential to seek out enemy agents who have come to conduct espionage against you and to bribe them to serve you. Give them instructions and care for them. Thus doubled agents are recruited and used.
Sun Tzu

It is only the enlightened ruler and the wise general who will use the highest intelligence of the army for the purposes of spying, and thereby they achieve great results.
Sun Tzu


Know thy self, know thy enemy. A thousand battles, a thousand victories.
Sun Tzu

Know your enemy and know yourself and you can fight a hundred battles without disaster.
Sun Tzu

Now the reason the enlightened prince and the wise general conquer the enemy whenever they move and their achievements surpass those of ordinary men is foreknowledge.
Sun Tzu

Of all those in the army close to the commander none is more intimate than the secret agent; of all rewards none more liberal than those given to secret agents; of all matters none is more confidential than those relating to secret operations.
Sun Tzu

Opportunities multiply as they are seized.
Sun Tzu

Pretend inferiority and encourage his arrogance.
Sun Tzu

Prohibit the taking of omens, and do away with superstitious doubts. Then, until death itself comes, no calamity need be feared.
Sun Tzu

Regard your soldiers as your children, and they will follow you into the deepest valleys; look on them as your own beloved sons, and they will stand by you even unto death.
Sun Tzu

Secret operations are essential in war; upon them the army relies to make its every move.
Sun Tzu

Strategy without tactics is the slowest route to victory. Tactics without strategy is the noise before defeat.
Sun Tzu

Supreme excellence consists in breaking the enemy's resistance without fighting.
Sun Tzu

The enlightened ruler is heedful, and the good general full of caution.
Sun Tzu

The general who advances without coveting fame and retreats without fearing disgrace, whose only thought is to protect his country and do good service for his sovereign, is the jewel of the kingdom.
Sun Tzu

The general who wins the battle makes many calculations in his temple before the battle is fought. The general who loses makes but few calculations beforehand.
Sun Tzu

The good fighters of old first put themselves beyond the possibility of defeat, and then waited for an opportunity of defeating the enemy.
Sun Tzu

The opportunity to secure ourselves against defeat lies in our own hands, but the opportunity of defeating the enemy is provided by the enemy himself.
Sun Tzu

The quality of decision is like the well-timed swoop of a falcon which enables it to strike and destroy its victim.
Sun Tzu

The skilful employer of men will employ the wise man, the brave man, the covetous man, and the stupid man.
Sun Tzu


The supreme art of war is to subdue the enemy without fighting.
Sun Tzu

There has never been a protracted war from which a country has benefited.
Sun Tzu

There is no instance of a nation benefitting from prolonged warfare.
Sun Tzu

Thus it is that in war the victorious strategist only seeks battle after the victory has been won, whereas he who is destined to defeat first fights and afterwards looks for victory.
Sun Tzu

Thus, what is of supreme importance in war is to attack the enemy's strategy.
Sun Tzu

To fight and conquer in all our battles is not supreme excellence; supreme excellence consists in breaking the enemy's resistance without fighting.
Sun Tzu

To see victory only when it is within the ken of the common herd is not the acme of excellence.
Sun Tzu

Victorious warriors win first and then go to war, while defeated warriors go to war first and then seek to win.
Sun Tzu

When envoys are sent with compliments in their mouths, it is a sign that the enemy wishes for a truce.
Sun Tzu

You have to believe in yourself.
Sun Tzu


# TaN