Budi Pekerti Keluarga (Akar Sebuah Tanaman)

Spread the love

KELUARGA: BUDI PEKERTI
(AKAR SEBUAH TANAMAN)

Jika kita berkaca pada kenyataan yang ada, harus disadari bahwa Negeri ini berada pada jurang kemerosotan yang amat dalam. Ketika sulit sekali menemukan sosok yang dapat ditiru oleh generasi muda sebagai simbol keberhasilan seorang pemimpin. Pada umumnya sistem yang ada hanya menghasilkan individu-individu yang serakah dan hanya peduli akan kepentingan pribadi serta kelompoknya semata. Individu yang amat cerdas, sampai-sampai kecerdasan tersebut mendorong mereka untuk berprilaku korup dan serakah. Ketika kecerdasan yang mereka miliki dijadikan alat dan strategi untuk memuluskan langkah-langkah untuk menggapai hasrat ambisi pribadi dan kelompok mereka masing-masing.

Pendidikan intelegensia nyatanya dapat membawa malapetaka, dimana hal itu jika tanpa diiringi dengan pendikan moral dan spiritual hanya akan membimbing kita untuk menjadi individu-individu yang korup dan serakah. Maka dari itu benar adanya bahwa pendidikan tidak serta merta bisa diunggulkan dari satu sisi saja, selain kecerdasan intelegensia (Intelligence Quotient), sekurang-kurangnya kecerdasan emosi (Emotional Quotient), moral (Morality Quotient) dan spiritual (Spiritual Quotient) amat berpengaruh terhadap karakter pribadi seseorang. Umumnya para orangtua terjebak dengan hanya mengutamakan kecerdasan intelegensia semata.

Sepertinya ada yang salah juga dengan pola kehidupan yang terjadi di negeri ini. Ketika para orangtua umumnya hanya mendidik anak untuk menjadi orang yang sukses (dalam pengertian mengejar materi semata), diiringi dengan kurangnya pendidikan moral dan spiritual yang baik. Tentu saja selain faktor lain yang amat berpengaruh, keluarga menjadi akar utama dalam membentuk karakter pribadi seseorang. Tidak jarang kita menemukan keluarga yang acuh terhadap pendidikan, bahkan pendidikan intelegensia itu sendiri. Negara juga seringkali tidak bisa menjadi fasilitator untuk mengubah pola kehidupan yang kacau ini. Ketika guru pun tak bisa menjadi sosok tauladan, karena sebagian dari mereka harus kesulitan terhadap diri dan keluarganya masing-masing, sehingga yang ada dipikiran mereka ialah semata soal hasil yang didapat dari mengajar, tanpa adanya ketulusan untuk benar-benar dapat mendidik seorang siswa menjadi pribadi yang tangguh dan bermanfaat. Apalagi ditambah dengan kapabilitas yang tidak memadai, disertai dengan sistem pendidikan etika dan moral yang amat kurang terutama di jenjang terkecil pendidikan formal yang ada di negeri ini.

Ajaran budi pekerti yang ditekankan oleh Konfusius rasanya dapat diterima secara universal untuk kemudian diterapkan dalam konsep dunia pendidikan di Indonesia. Ketika para ilmuwan barat mempelajari keruntuhan empat peradaban dunia kuno (Tiongkok, India, Mesir, dan Babylonia), mereka mendapati hanya kebudayaan Tiongkok yang nyatanya masih dapat bertahan, dan mereka menarik kesimpulan itu terjadi karena Tiongkok setidaknya masih melestarikan kebudayaan pendidikan budi pekerti berbasis keluarga. Materi pendidikan yang bermuatan budi pekerti haruslah ditekankan dalam pendidikan formal saat ini di Indonesia. Kita bisa berkaca pada Tiongkok yang sedikitnya masih mempertahankan konsep tersebut, dimana pendidikan dasar dalam masyarakat feodal Tiongkok diawali dengan bersekolah di rumah guru dalam kampung. Guru tidak menetapkan uang sekolah, orangtua murid membayar sesuai dengan kemampuan masing-masing, karena sudah selayaknya dimengerti bahwa adil itu tidak semata-mata harus sama. Bahkan 2500 tahun yang lalu, Konfusius hanya mensyarakatkan “seikat dendeng” bagi siapa saja yang ingin belajar kepadanya tanpa pandang bulu.
Guru menerima pemberian tanpa pandang bulu, dan menerapkan subsidi silang dimana pemberian seorang yang kaya akan disalurkan kepada mereka yang berkekurangan. Murid yang bersalah di sekolah dan dihukum guru tidak akan berani mengadu kepada orangtua, karena mereka tahu bahwa akan mendapat hukuman yang lebih berat lagi dari orangtua dirumah. Orangtua murid selalu mengajarkan kepada anak-anaknya untuk berprilaku santun dan patuh terhadap para guru, dan guru selalu mengajarkan murid-muridnya untuk berbakti kepada orangtua mereka masing-masing. Hal ini laksana alat musik yang ditabuh harmonis, penuh keserasian kerjasama antara orangtua dan guru.

Mungkin sedikitnya ini juga pernah terjadi (masa lalu) di Indonesia, namun perlahan-lahan semangat itu telah pudar. Ketika kita bisa melihat kenyataan bahwa banyak guru yang diprotes, diboikot, bahkan dipukuli orangtua murid karena tidak terima anaknya dihukum guru (walaupun hukumannya dalam ambang batas wajar karena kesalahan murid itu sendiri yang tidak lagi dapat ditolerir). Saat terdengar berita banyak guru yang mencabuli murid-muridnya dengan sadar. Saat para intelektual melakukan tindak korupsi dalam kepentingan pendidikan. Sungguh naas apa yang terjadi di dalam dunia pendidikan Indonesia saat ini, dan jika kita tidak ingin peradaban ini punah, tentu saja pemerintah harus bergerak cepat mengatasi kesalahan sistem yang ada sejauh ini.

Selanjutnya jika kita mau berkaca kepada Jepang, murid-murid TK dan SD diutamakan untuk diajarkan tentang pendidikan moral, bagaimana cara kehidupan sesungguhnya di bumi yang kita huni bersama-sama, sehingga tentu saja harus memikirkan tentang kepentingan bersama pula. Hasil didikan yang cukup mengguncang dunia ialah ketika orang-orang Jepang justru bisa mengantre disaat situasi tidak memungkinkan untuk melakukan hal itu (Tragedi Pasca Tsunami), dimana keadaan sedang lapar dan kalut, mereka justru tidak mau berebut, mereka tetap mengutamakan kepentingan bersama untuk hasil yang tentunya akan lebih baik. Belum lagi tentang sosok pemimpin yang mau mengakui kesalahan, bahkan harakiri jika terbukti berbuat salah dan melanggar undang-undang dan merugikan orang lain.

Tentu saja ini menjadi kenyataan yang amat berbanding terbalik dengan rakyat Indonesia yang katanya amat berbudaya dan berbudi luhur. Bahkan untuk menemui pemimpin yang mau mengakui kesalahan saja sulit, mereka tetap merasa benar walau bukti-bukti menyatakan mereka bersalah, terlebih rasanya mereka bangga akan hal itu. Jangankan dalam situasi sedang kalut, saat normal saja umumnya rakyat lebih sering berebut, contoh terkecil ialah rebutan kursi di dalam transportasi umum, tak peduli orangtua ataupun ibu hamil berdiri didepan mata, yang terpenting ialah tentang kenyamanan yang dirasakan sendiri tanpa mempedulikan orang lain.

Siapakah sebenarnya yang harus bertanggungjawab akan hal ini semua?

Rasanya semua pihak mempunyai tanggung jawabnya masing-masing, namun tentu saja keluarga layaknya menjadi akar dari tanaman yang akan menghasilkan buahnya masing-masing, jika akar itu kuat, tidak akan goyah walau terkoyak badai sekalipun, tanaman itu akan tetap tumbuh menghasilkan buah-buah yang manis. Tentu saja ada waktunya ia tidak berbuah manis dan bahkan tidak lagi berbuah, begitu juga dengan manusia yang pada dasarnya pasti mempunyai kekurangan, tidak akan dapat menjadi sempurna, dan mempunyai batas waktu.

Keluarga menjadi pondasi utama, karena dengan pendidikan yang baik dan benar di dalam kehidupan keluarga, seorang anak dapat berbakti kepada orangtua. Dengan sikap bakti yang benar tentu saja anak akan menjaga nama baik orangtua dimanapun ia berada dengan perbuatan sikap yang nyata. Karena baik buruk perilaku sang anak, tentu saja orangtua juga akan menanggung beban positif atau negatif dari apa yang dia lakukan. Mereka juga lah yang akan jadi bahan perbincangan, entah kebanggaan atau kemurkaan yang didapat akibat perilaku sang anak. Tentu saja seorang anak yang baik menginginkan orangtuanya bangga akan kehadiran dirinya, bukan hanya sekedar kesuksesan materi, namun dengan kehidupan yang bernilai dan bermanfaat bagi orang banyak.

Orangtua harus benar-benar menjadi akar yang kuat agar sang tanaman tak mudah tumbang, terlebih dapat berbuah manis nantinya. Akar yang buruk tentu saja tidak akan mampu menghasilkan batang yang baik, apalagi untuk menghasilkan buah. Adapun kenyataan badai seringkali siap menerjang, ketika kehidupan diluar saat ini amat lah kejam, jika tak berhati-hati tentu saja anak dapat terjerumus dalam lubang kegelapan. Akar tentu saja tidak seharusnya bekerja sendirian, ia membutuhkan pupuk dan air (peran pemerintah). Pemerintah sudah seharusnya membantu mengembangkan sang tanaman agar tumbuh dengan baik melalui sistem yang demikian teratur. Sistem pendidikan yang benar tidak mengutamakan sekedar kecerdasan intelegensia semata. Sistem pengembangan sumber daya guru yang memadai, dan sistem jenjang pendidikan yang tidak profit oriented. Jika biaya sekolah, apalagi untuk menjadi dokter itu teramat mahal, tentu saja saat menjadi dokter sungguhan (sebagai manusia normal pada umumnya) ia butuh untuk mengembalikan modal yang telah ia keluarkan. Maka tidak jarang biaya kesehatan pun menjadi teramat mahal, karena memang tujuannya bukan untuk membantu orang sakit, tetapi untuk mencari keuntungan dan tentu saja mengganti modal yang ia pernah keluarkan selama jenjang pendidikan. Jika demikan, sepertinya tidak ada bedanya dengan seorang politikus di partai politik di masa pemilihan umum, yang sudah menjadi rahasia umum berjuang dengan materi untuk dapat dipilih, dan pada waktunya nanti mereka akan mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya untuk mengganti biaya politik yang pernah mereka keluarkan.

Jika nyatanya tak ada pupuk dan air yang cukup, tentu saja sang akar harus terus berjuang dengan sungguh-sungguh menopang sang tanaman untuk dapat tumbuh dan menghasilkan buah-buah yang manis ditengah terpaan angin dan badai yang siap menghadang. Sudah saatnya orangtua benar-benar fokus membimbing sang anak menjadi anak yang cerdas dan berbakti. Karena bakti itu ialah sumber dari segala kebaikan. Tidak ada lagi cerita tentang seorang anak yang dijaga oleh baby sitter sepanjang hari tanpa mendapat perhatian dan kasih sayang nyata dari kedua orangtuanya, karena dari situlah sang anak tumbuh, dari perhatian dan kasih sayang yang tulus dan apa adanya bakti itu dapat berkembang. Jika demikan tentu saja harga sang anak tidak lebih mahal daripada sebongkah emas, karena penulis belum pernah mendengar ada orangtua yang menitipkan bongkahan emasnya kepada baby sitter, tentu saja karena ia tidak percaya dan takut kehilangan harta emas tersebut.

Penulis sebenarnya bukan orang yang cukup beruntung secara materi jika dibandingkan dengan para orangtua yang dapat memperkerjakan baby sitter. Penulis harus kehilangan Ayahanda sejak umur 4 tahun karena penyakit leukimia, keadaan itu memaksa Ibunda untuk meneruskan pekerjaan sebagai karyawan swasta. Tentu saja dengan kenyataan itu penulis tidak dapat merasakan kasih sayang yang utuh dari kedua orangtua. Walaupun sejatinya penulis hidup dari dan oleh keringat Ibunda tercinta, tapi tetap saja penulis kekeringan cinta dan kasih sayang secara langsung dari orangtua. Tapi tentu saja penulis bersyukur dan amat berterimakasih mendapatkan sosok Ibunda yang tetap teguh berjuang sendirian untuk menghidupkan penulis.
Terlebih penulis merasa lebih beruntung, karena penulis dijaga oleh Sang Nenek dan keluarga lainnya yang tentu menjaga penulis bukan karena bayaran, namun karena ketulusan semata. Keadaan di lingkungan keluarga yang rajin memberi pelajaran dan pemahaman spiritual agama dengan sendirinya memaksa penulis untuk memahami tentang pelajaran moral sesungguhnnya dari kehidupan yang ada ketika penulis mulai beranjak dewasa. Oleh karena itu, penulis terus berusaha hidup di jalan yang benar minimal dengan tidak bertindak hal-hal yang dapat membuat orangtua merasa sedih dan murka. Tentu saja penulis bukan orang yang sempurna tanpa kesalahan, penulis menyadari banyak sekali kesalahan yang telah diperbuat penulis baik dalam keadaan sadar maupun tak sadar. Namun menurut Konfusius, yang dinamai kesalahan ialah ketika terus mengulang kesalahan tersebut tanpa ingin berusaha memperbaikinya, karena tiada seorangpun manusia yang luput dari kesalahan dan khilafnya.

Mudah-mudahan kedepan dapat membuahkan hasil yang semestinya, hidup bernilai dan bermanfaat terhadap keluarga, sesama, bahkan negara, hingga akhirnya dapat terlukis senyuman di raut wajah orangtua dan keluarga.
Pepatah Tiongkok Kuno mengatakan, “Dalam membangun negeri dan menjalankan roda pemerintahan, pendidikan yang harus dikedepankan. Dan hal utama dalam membangun manusia yang seutuhnya ialah dengan menerapkan pendidikan budi pekerti (Morality Quotient)”. Dengan pendidikan yang benar manusia dapat menjadi baik. Jika didalam kehidupan keluarga seorang anak dapat berbakti kepada orangtua, bertakwa kepada agama dengan menebarkan kasih sayang terhadap sesama secara nyata, kemudian dapat mengabdi pada nusa dan bangsa, maka setiap anak bangsa dapat menjadi pemimpin yang dapat menjadi suri tauladan bagi generasi berikutnya.

Anak-anak itu terbentuk karena didikan orangtua dan lingkungan
sekitar mereka. Konfusius pernah berkata, “Jati diri manusia itu sebenarnya sama, sangat murni dan sempurna. Tapi karena terkontaminasi dikemudian hari, maka tabiat satu sama lain menjadi berbeda”. Edukasi publik yang terbaik adalah dengan segenap hati mendorong pendidikan budi pekerti (Tan Tie Lun).

Rakyat tidak mengerti tata karma, hukum Negara tidak akan efektif untuk menghadapi mereka. Hukum mungkin bisa memenjarakan anak durhaka, memidanakan pencuri atau koruptor, tapi hukum nyatanya tidak bisa memaksa rakyat bertindak etis dan membuat orang menjadi bermoral. Karena menurut Konfusius, “Dibimbing dengan undang-undang, dilengkapi dengan hukuman hanya akan membuat rakyat berusaha menghindari hukum, dan kehilangan harga diri dan rasa malu atas kesalahannya. Mendidik rakyat dengan etika moral budi pekerti dengan sopan santun, rakyat tidak akan hanya menaati hukum, tapi bisa merasa malu berbuat jahat”. Laozi berkata, “Hukum Negara yang makin rumit dan mendetail, yang melanggar akan semakin banyak”.

Jika bicara cerita hukum di Indonesia, rasanya semua aturan undang-undang berikut hukuman tentang segala hal semuanya ada, bahkan sampai urusan-urusan yang tidak sedikitpun terpikir nyatanya diatur undang-undang berikut hukumannya. Tapi lihat saja kenyataan yang ada di Indonesia, setiap pihak umumnya hanya saling mengelak ketika berhadapan dengan masalah hukum tersebut, berusaha mengelabuhi hukum itu sendiri dengan khayalan tingkat tinggi mereka masing-masing demi terbebas dari hukuman. Apalagi ditambah dengan implementasi hukum yang begitu bobrok, ketika para penegak dan pilar-pilar hukum di Indonesia justru terjerat masalah hukum itu sendiri. Selanjutnya hanya menyisakan teori-teori hukum yang begitu indah dipandang mata, namun jauh dari hasil praktek implentasinya yang dapat dirasakan jiwa.

Yang paling penting dalam rencana satu tahun adalah bercocok tanam. Yang paling berarti dalam persiapan untuk sepuluh tahun adalah menanam pohon. Jika merancang perkara untuk seumur hidup, yang paling penting ialah membina kader generasi penerus (Guan Zi).

Maka jika ingin Negara ini berkelanjutan ke arah yang lebih baik, sudah seyogyanya Pemerintah memfokuskan diri dalam dunia pendidikan dengan konsep yang tentunya tepat, bukan sekedar baik. Sebenarnya hal ini juga seiring sejalan dengan wacana pemerintah yang telah sadar akan pentingnya budi pekerti yang akan lebih ditekankan dalam kurikulum pendidikan nasional. Namun yang perlu diingat ialah pengawasan dalam segi implementasi, karena pada umumnya keinginan pihak atas tidak seiring sejalan dengan implementasi nyata di pihak bawah.

Perlu diingat juga, bahwa menurut penulis pendidikan yang baik rasanya tidak serta merta hanya ada di sekolah. Tapi pendidikan terbaik ialah berada didalam kehidupan keluarga, apapun bentuk positifnya. Menjadi tugas berat pemerintah ialah menyelaraskan hal tersebut menjadi kenyataan, membuat sistem yang mengarahkan kehidupan keluarga yang lebih utama, tidak menjadikan kedua orangtua menjadi fokus dalam dunia pekerjaan mereka masing-masing, tapi juga punya porsi besar untuk meluangkan dan mendidik anak-anaknya secara langsung dengan didikan kasih sayang yang nyata, sampai kemudian anak tersebut betul-betul siap untuk bertumbuh menjadi pribadi yang matang, dengan akar laku bakti yang kuat, sehingga tidak mudah goyah diterpa berbagai godaan dan ujian.

Dalam dunia sepakbola, sebaik-baiknya tim, pemain, bahkan strategi sepakbola, hanya akan menjadi sia-sia jika tidak dapat menyarangkan bola kedalam gawang lawan, dan kemudian memenangkan sebuah pertandingan. Pelatih yang baik akan menggunakan strategi yang tepat sesuai dengan komposisi pemain untuk memenangkan sebuah pertandingan, dan perlu diingat tidak semua strategi sama dalam melawan sebuah tim yang berbeda. Mereka akan menganalisis segala kemungkinan yang ada untuk menghasilkan sebuah strategi yang tepat untuk digunakan untuk memenangkan pertandingan, bukan sekedar bermain secara baik untuk menyenangkan supporter.

Satu hal lagi yang tak kalah pentingya ialah kedewasaan orangtua, pada umumnya orangtua merasa mendidik itu sama dengan ‘memaksa’. Seringkali seorang anak ‘dipaksa’ untuk menjadi apa yang diinginkan oleh orangtua. Memaksa mereka untuk menjadi seorang yang perfeksionis di segala bidang. Sepertinya hal ini keliru besar, karena setiap orang mempunyai passion yang berbeda-beda, memiliki bakat dan keinginan yang berbeda satu sama lain. Sebaik-baiknya tugas orangtua ialah lebih kepada mengarahkan seorang anak menjadi seorang yang bermanfaat apapun passion yang dimiliki. Mendukung secara penuh apa yang menjadi bakatnya, sehingga ia dapat menjadi seorang yang berhasil tidak hanya secara fisik, tapi dalam hati dan jiwanya.
Jangan paksakan ia pintar fisika jika dia memiliki nilai yang tinggi dalam kesenian. Jangan paksakan dia untuk kreatif dalam seni, jika ia memiliki nilai yang tinggi dalam ilmu pasti. Tak perlu memaksakan untuk membentuk secara keseluruhan mengenai hidupnya.

Jangan biarkan mereka tersesat dalam keinginan orangtua. Mimpi, semangat, bakat laksana seekor burung, jangan biarkan ia terkekang di dalam sangkar baying-bayang orangtua. Biarkanlah ia lepas, bebas, kemana hati dan jiwanya pergi, namun tetap tidak merugikan orang lain dan bermanfaat untuk sesama. Biarkanlah ia memilih jalan hidupnya untuk menjadi apa, siapa, dan bagaimana dalam sebuah konsep yang positif dengan bekal moralitas hasil daripada pendidikan budi pekerti.

Konfusius pernah berkata, cintailah pekerjaanmu maka tak akan ada sesal dan gerutu dalam menjalankannya. Biarkanlah mereka hidup dan berkembang melalui apa yang mereka cintai

.images-1 images

Mario
(Ketua Umum Generasi Muda Khonghucu Indonesia)

available on :

http://indonesiana.tempo.co/read/90002/2016/09/23/mariotando/budi-pekerti-keluarga-akar-sebuah-tanaman

 


Spread the love

Upacara Adat Seren Taun (22 Rayagung 1949 Saka Sunda)

Spread the love

Perwakilan GEMAKU (Bandung) dalam acara Upacara Adat Seren Taun (22 Rayagung 1949 Saka Sunda). Indonesia tercipta dari aneka ragam adat, suku, budaya dan keyakinan. Dan hal itu selayaknya menjadi nilai tambah kebhinekaan yang harus terus dijaga dan dilestarikan keberadaannya. Dipahami perbedaannya, dan dihormati segala kontribusinya. Acara tersebut dihadiri pula oleh sejumlah pejabat nasional maupun daerah, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Trasmigrasi, Bupati Kuningan, Wakil Ketua DPD – RI (GKR Hemas), dll.

Upacara seren taun adalah ungkapan syukur dan doa masyarakat sunda atas suka duka yang mereka alami terutama di bidang pertanian selama setahun yang telah berlalu dan tahun yang akan datang. Seren taun dilaksanakan setiap tanggal 22 Bulan Rayagung sebagai bulan terakhir dalam perhitungan kalender sunda. Selain ritual-ritual yang bersifat sakral, digelar juga kesenian dan hiburan. Dengan kata lain kegiatan ini merupakan hubungan antara manusia dengan tuhan, dan juga dengan sesama mahluk atau alam baik lewat kegiatan kesenian, pendidikan, dan sosial budaya.

Upacara Seren Taun diawali dengan upacara ngajayak ( Menjemput Padi ), pada tanggal 18 Rayagung yang dilanjutkan dengan upacara penumbukan padi dan sebagai puncak acaranya pada tanggal 22 Rayagung. Ngajayak dalam bahasa sunda berarti menerima dan menyambut, sedangkan bilangan 18 yang dalam bahasa sunda diucapkan ÔÇ£dalapan welasÔÇØ berkonotasi welas asih yang artinya cinta kasih serta kemurahan Tuhan yang telah menganugerahkan segala kehidupan bagi umat-Nya di segenap penjuru bumi.

Puncak acara Seren Taun berupa penumbukan padi pada tanggal 22 Rayagung juga memiliki makna tersendiri. Bilangan 22 dimaknai sebagai rangkaian bilangan 20 dan 2. Padi yang ditumbuk pada puncak acara sebanyak 22 kwintal dengan pembagian 20 kwintal untuk ditumbuk dan dibagikan kembali kepada masyarakat dan 2 kwintal digunakan sebagai benih. Bilangan 20 merefleksikan unsur anatomi tubuh manusia.

Baik laki-laki ataupun perempuan memiliki 20 sifat wujud manusia, adalah : 1. getih atau darah, 2. daging, 3. bulu, 4. kuku, 5. rambut, 6. kulit, 7. urat, 8. polo atau otak, 9. bayah atau paru, 10. ari atau hati, 11. kalilipa atau limpa, 12. mamaras atau maras, 13. hamperu ataun empedu, 14. tulang, 15. sumsum, 16. lamad atau lemak, 17. gegembung atau lambung. 18. peujit atau usus. 19. ginjal dan 20. jantung.

Ke 20 sifat diatas menyatukan organ dan sel tubuh dengan fungsi yang beraneka ragam, atau dengan kata lain tubuh atau jasmani dipandang sebagai suatu struktur hidup yang memiliki proses seperti hukum adikodrati. Hukum adikodrati ini kemudian menjelma menjadi jirim ( raga ), jisim ( nurani ) dan pengakuan ( aku ). Sedangkan bilangan 2 mengacu pada pengertian bahwa kehidupan siang dan malam, suka duka, baik buruk dan sebaginya.

Dalam upacara seren taun yang menjadi objek utama adalah PADI. Padi dianggap sebagai lambang kemakmuran karena daerah Cigugur khususnya dan daerah sunda lain pada umumnya merupakan daerah pertanian yang berbagai kisah klasik satra sunda, seperti kisah Pwah Aci Sahyang Asri yang memberikan kesuburan bagi petani sebagai utusan dari Jabaning Langit yang turun ke bumi. Dalam upacara seren taun inilah dituturkan kembali kisah-kisah klasik pantun sunda yang bercerita tentang perjalanan Pwah Aci Sahyang Asri. Selain itu, padi merupakan sumber bahan makanan utama yang memiliki pengaruh langsung pada ke-20 sifat wujud manusia diatas.

Dalam kesempatan Upacara Seren Taun kali ini menampilkan, Damar Sewu merupakan sebuah helaran budaya yang mengawali rangkaian upacara adat seren taun Cigugur. Merupakan gambaran manusia dalam menjalani proses kehidupan baik secara pribadi maupun sosial.Tari Buyung yang merupakan tarian adat sunda yang mencerminkan masyrakat sunda dalam mengambil air, Pesta Dadung merupakan upacara sakral masyarakat dilaksanakan di Mayasih yang merupakan upaya meruwat dan menjaga keseimbangan antara positif dan negatif di alam, jadi pesta dadung merupakan upaya meruwat dan menjaga keseimbangan alam agar hama dan unsur negatif tidak menggangu kehidupan manusia.

Ngamemerokeun merupakan upacara sakral didalam tradisi Sunda Wiwitan yang masih dilaksanakan di daerah Kanekes ( Baduy ). Upacara ini berintikan mempertemukan dan mengawinkan benih padi jantan dan betina. Selanjutnya Tarawangsa yakni seni yang berasal dari mataram kira-kira abad ke XV, seni Tarawangsa disebut juga seni jentreng, menginduk kepada suara kecapi, juga ada yang menamai seni ngekngek, menginduk kepada suara tarawangsa. Mula-mula yang dipentaskan hanya tabuhan kecapi dan tarawangsa saja, tapi disertai penari, agar lebih menarik akhirnya Tarawangsa dilengkapi dengan tarian-tarian sederhana yang disebut tari Badaya.

Pwah Aci atau yang lebih dikenal dengan Dewi Sri merupakan tokoh yang telah melegenda dan memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat agraris khususnya tatar sunda. Tari Pwah Aci merupakan salah satu seni tari spiritual yang di dalamnya tersirat ungkapan rasa hormat dan bhakti kepada Sang Pemberi Hidup melalui gerak dan ekspresi.

Seribu Kentongan merupakan acara penutup rangkaian acara di bukit Situ Hyang. lebih dari 1000 orang terdiri dari masyarakat dan anak-anak sekolah serta seluruh peserta pendukung rangkaian acara seren taun menuju Paseban Tri Panca Tunggal ditutup dengan 10 orang rampak kendang. Dimulai dengan pukulan induk oleh Ketua Adat kemudian diikuti oleh ribuan peserta. Ini memiliki makna bahwa kentongan awi ( Bambu ) memiliki arti kita harus senantiasa ingat dan eling pada asal wiwitan atau hukum adikodrati yang menentukan nilai kemanusian dan kebangsaan.

Dilihat dari sisi budaya, upacara adat seren taun yang sudah berjalan tahunan di Kabupaten Kuningan ini, tentunya merupakan hal yang dapat dibanggakan oleh masyarakat karena setiap helatan Seren Taun ini dilaksanakan, dapat mendatangkan ribuan pendatang wisatawan domestik maupun mancanegara. Hanya saja dilihat dari sisi ekonomis belum dapat memberikan efek ekonomi kepada masyarakat sekitar.

Sehingga merupakan tugas kita semua, dalam setiap helaran yang rutin dilaksanakan setiap tahun ini dapat memberikan nilai ekonomi yang fositif kepada masyarakat sekitar. Seperti contoh masyarakat sekitar dapat membuat cendra mata khas Cigugur dan barang-barang yang mempunyai nilai khas sehingga para pendatang mempunyai kenangan tersendiri terhadap upacara seren taun ini dengan membeli barang tersebut.
Semoga di tahun-tahun yang akan datang hal ini dapat dimanfaatkan sebagai ajang peningkatan ekonomi masyarakat dan juga meningkatkan dunia pariwisata masyarakat Kabupaten Kuningan. ( Bagian Humas Setda Kabupaten Kuningan).

Bhinneka Tunggal Ika merupakan kodrat yang tidak dapat ditawar lagi, Pancasila merupakan roh dan jiwa bangsa yang menyelimuti hati segenap rakyatnya, NKRI ialah bingkai negeri, harga mati bagi konsep persatuan Indonesia dalam merajut perbedaan. Atas dasar itu pulalah kita sebagai anak bangsa Indonesia kembali bersama-sama meyakinkan diri tentang nilai-nilai persatuan dalam sebuah kehidupan kemanusiaan di tanah air tercinta. Karena sejatinya perbedaan ialah anugrah Sang Pencipta untuk melengkapi segenap wujud. Karena dari perbedaan itulah kita terlahir dan hidup. Semoga Huang Tian Shang Di mengingatkan kembali tentang nilai-nilai pluralisme yang ada, agar kami tidak khilaf dan terus membawa nama Mu dalam segala bentuk nilai-nilai negatif akibat sebuah perbedaan yang sebenarnya telah kau gariskan. Mari kembali kita merenungi nilai kebersamaan bahwa di empat penjuru lautan semua manusia bersaudara, tiada sekat perbedaan suku, agama, ras, etnis, kepercayaan yang dapat memecah belah kehidupan bersama.

Segelintir doa lintas agama dari perwakilan GEMAKU dalam upacara adat Seren Taun (22 Rayagungdi Cagar Budaya Nasional Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur, Kuningan – Jawa Barat (24 – 25 September 2015)

img-20160924-wa0013

img-20160924-wa0010  img-20160924-wa0015

 

 


Spread the love

Seminar Badan Perencanaan Pembangunan Nasional – Hotel Marcopolo, Jakarta

Spread the love

Dq. Yudianto dan Dq. Darma mewakili GEMAKU dalam Seminar Pembangunan Nasional bersama BAPPENAS (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), Hotel Marcopolo Jakarta (21 September 2016).

Diskusi Bappenas bersama generasi muda dalam merencanakan strategi pembangunan nasional yang efektif dan berkelanjutan. Bekerja sama dengan Pusat Kajian Kepemudaan untuk menentukan bagaiamana langkah-langkah pembangunan kepemudaan kedepan. Membangun sumber daya manusia dengan konsep-konsep strategis ke arah yang lebih baik.

Mengawal kegiatan-kegiatan kepemudan yang bersinergi dengan program-program pembangunan sumber daya manusia yang berdaya saing.

 

img-20160921-wa0002 img-20160921-wa0005 img-20160921-wa0006


Spread the love

Focus Group Discussion : Celebrating Diversity of Peace “Pemuda Merayakan Keberagaman dan Mengamalkan Nilai-nilai Pancasila”

Spread the love

 

Dq. Anggi Sanjaya mewakili Gemaku dalam acara focus group discussion lintas agama yang digagas oleh Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Jakarta bersama Orang Muda Lintas Agama. Peserta berasal dari beberapa organisasi dan lembaga kepemudaan lintas agama (PMKAJ, PMKRI, PHDI, Hikmahbudhi, IPPNU, Forum Jong Indonesia, ANBTI, Gusdurian, ICRP, Peradah, Pemuda MATAKIN, dll).

Kegiatan ini dibuka oleh Bpk. Anang Prihantoro (Anggota DPD – RI), beliau menyampaikan bahwa pemuda lintas agama harus sering bertemu dan berjumpa dalam segala hal. Sebab keberagaman akan tumbuh jika para pemuda mampu berdialog dan membangun persaudaraan guna membangun bangsa ini menjadi bangsa yang lebih baik.

Selanjutnya diikuti beberapa narasumber lain diantaranya; Yudi Latief (Ketua Reform Institute dan Kepala Pusat Study Pancasila, Alissa Wahid (Gusdurian), Bhikku Darmakaro (Walubi), Pdt. Manuel E. Raitung (Ketua PGI Jakarta), Prof. Magnis Suseno, Bpk. Dr. H. Rumadi (PBNU), Js. Liem Liliany Lontoh (Matakin Jakarta). Wayan Sudane (PHDI), dll.

Hasil FGD Dalam Komitmen Bersama Orang Muda Lintas Agama

1. Menggugah dan mengingatkan orang muda Indonesia tentang pentingnya budaya dialog antar umat dari berbagai latar belakang agama dan tradisi budaya agar tercipta budaya damai, toleran dan saling memahami antar umat, sebagai aktualisasi kasih kepada Tuhan Allah dan sesama sesuai dengan ajaran kasih dari agama dan keyakinan masing-masing.

2. Agar peran kerukunan antar agama dapat menjadi suatu forum untuk saling tukar informasi diantara umat dari berbagai latar belakang budaya dan agama guna mendapatkan pemahaman yang lengkap dan mencari common world agar tercipta budaya toleransi dan saling memahami satu sama lain.

3. Menyebarluaskan budaya damai dan toleran sampai di tingkat akar rumput secara bersama-sama oleh tokoh lintas agama dan memperteguh pelayanan kasih dalam sesama umat beriman.

4. Memfasilitasinya orang muda dari berbagai agama untuk saling mengenal perbedaan agama dan memahami nilai-nilai pancasila serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

5. Membentuk komunitas orang muda lintas agama yang mempunyai visi keterbukaan, toleran dan mengedepankan dialog untuk mewujudkan perdamaian.

6. Memunculkan para orang muda sebagai lokomotif perdamaian berbakat yang concern terhadap isu-isu kerukunan dan perdamaian.

img-20160920-wa0036 img-20160920-wa0038 img-20160920-wa0039

 

Keberagaman merupakan sebuah keniscayaan yang tidak perlu lagi diperdebatkan, karena menyangkut kodrat dan hak manusia dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Apalagi orang yang membeda-bedakan manusia; membenci, menyalahkan seseorang hanya berdasar perbedaan SARA ialah orang yang justru secara tidak langsung menyalahkan Khalik Sang Pencipta Alam Semesta. Karena dari-Nya lah semua berasal, DIA tidak ingin kita sama, maka DIA mengilhami perbedaan itu untuk kemudian dapat dirajut oleh manusia menjadi sebuah bingkai besar gambaran keindahan dunia.

 

Sabtu, 17 September 2016

(Gedung Nusantara V Ruang GBHN Kompleks Parlemen MPR, DPR, DPD RI – Jakarta)


Spread the love

Pentas Seni Gemaku @Gereja St. Matias – Cinere

Spread the love

Penampilan Wushu Genta Suci (MAKIN Cibinong-Bogor) mewakili Gemaku dalam Pentas Seni Penutupan PORSENI 2016 Gereja Katolik St. Matias – Cinere.

(Sabtu, 20 Agustus 2016)

 

Gemaku berpartisipasi dalam kegiatan pentas seni yang diadakan oleh Gereja St. Matias Cinere dalam rangka penutupan PORSENI 2016 bertemakan “Spirit of unity in diversity“.

Tuhan Sang Pencipta memang tidak pernah setuju kita sama, maka dari itulah kita berbeda. Tapi perbedaan bukanlah halangan untuk kita bersatu, bukan alasan untuk menjaga jarak dan tidak saling menghormati. Bahwa keberagaman harus disikapi dengan bijaksana, saling melengkapi sehingga semangat persatuan didalam perbedaan dapat terus terjaga.

Jika kalian masih terlalu sempit mempermasalahkan perbedaan, maka kalian sejatinya tidak menghormati Sang Pencipta. Jika kalian percaya DIA begitu Maha Kuasa, bukankah dengan mudah DIA membuat kita semua seragam? Tidak, DIA tidak inginkan itu. Maka sejatinya hidup rukunlah dalam setiap perbedaan.

 

“Seorang bijak dapat hidup rukun walau berbeda, Seorang rendah budi tidak dapat rukun walaupun sama”

“Diempat penjuru lautan, semua manusia bersaudara”

– Confucius –

 

img-20160821-wa0001 img-20160821-wa0003 img-20160821-wa0004 img-20160821-wa0005 img-20160821-wa0006 img-20160821-wa0007 img-20160821-wa0009


Spread the love