Blog

Penerbangan Confucius Pertama Kali Pesawat Shandong Airlines

Spread the love

Penerbangan Confucius pertama kali pesawat oleh Shandong Airlines telah dimulai pada tanggal 6 Juni 2018 dari Jinan ke Guangzhou.

Ekterior dan interior pesawat dihias gambar Confucius / Kongzi dan setiap penumpang diberi kitab Analects / Lunyu.

Bagi yang ingin bertanya mengenai isi kitab Lunyu, para awak pesawat siap menjawabnya.

Hal ini juga membuka peluang bagi umat Khonghucu untuk melamar menjadi awak pesawat.

Shandong adalah provinsi dimana Nabi Kongzi dan banyak filsuf lahir. Kota Qufu sebagai tempat kelahiran Nabi Kongzi di provinsi Shandong mempromosikan dirinya sebagai The Holy City in the East (东方圣城).

Sumber:
https://www.tionghoa.com/penerbangan-confucius-pertama-kali-pesawat-shandong-airlines/


Spread the love

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439H

Spread the love

Andai jemari tak sempat berjabat.

Andai raga tak dapat bertatap.

Seiring beduk yang menggema seruan takbir yang berkumandang.

Kami haturkan salam menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Jika ada kata, serta khilaf membekas lara.. mohon dimaafkan.


Spread the love

Selamat Hari Pendidikan Nasional, Pandangan Agama Khonghucu tentang Pendidikan

Spread the love

惟德动天, 2 Mei adalah *Hari Pendidikan Nasional*.
Bagaimana pandangan Khonghucu terhadap pendidikan?

“Seorang Junzi/Susilawan yg mengerti *apa yang menjadikan PENDIDIKAN BERHASIL dan BERKEMBANG*, dan mengerti *apa yang menjadikan PENDIDIKAN HANCUR*, ia boleh *menjadi GURU* bagi orang lain.
Maka cara seorang Junzi memberikan PENDIDIKAN :
1. Membimbing berjalan, tidak menyeret menumbuhkan *KEHARMONISAN*.

2. Menguatkan dan tidak menjerakan, itu memberi *KEMUDAHAN*.

3. Membuka jalan tetapi tidak menuntun sampai akhir pencapaian, menjadikan orang *BERPIKIR*.

Menimbulkan *KEHARMONISAN*,
memberi *KEMUDAHAN*, dan menjadikan orang *BERPIKIR*, itu adalah *PENDIDIKAN* yang *BAIK*.
(Liji Xue Ji/Catatan Tentang Pendidikan XVI:13)


Spread the love

Keturunan Nabi Kongzi (Confucius) Kunjungi Boen Bio Surabaya

Spread the love

Keturunan Confucius (Nabi Kongzi) sambangi Boen Bio Surabaya

Kunjungan keturunan ke-75 Nabi Kongzi ke Klenteng Boen Bio ini, dimanfaatkan untuk berbagi ilmu tatacara upacara sembahyang yang benar.

SURABAYA, 29 April 2018– Keturunan Nabi Kongzi yg ke-75, sekaligus Vice President, Confucius Genealogi Regular Reneval Association, juga sebagai Deputy Secretary General, World Union of Confucius Descendants The Head of Kong Clan Prot-Net, beranjangsana ke Klenteng Boen Bio, Surabaya, Minggu (29/4) lalu.

Menurut sesepuh Klenteng Boen Bio Surabaya Budi Widjaya, kunjungan Mr. Kong Xiang ke Indonesia adalah dalam rangkain bisnis dan sekaligus memperkenalkan tentang tata upacara sembahyang Ru Jiao atau agama Khonghucu di Tiongkok yang sampai saat ini tetap dilakukan.

http://indochinatown.com/daerah/keturunan-nabi-kongzi-sambangi-klenteng-boen-bio/3787

“Saat ini di Indonesia sangat minim narasumber tentang pengetahuan Agama Khonghucu. Apalagi yang datang dari luar negeri seperti Mr. Kong Xiangdong. Ini merupakan kesempatan yang langka mendengarkan langsung dari narasumber keturunan dari Nabi Kongzi ke-75,” papar Budi Wijaya

Dalam kesempatan itu, lanjut Budi Wijaya, dengan hadirnya Mr. Kong Xiangdong ke Klenteng Boen Bio, pihaknya mengundang berbagai tempat ibadah baik yang ada di Surabaya dan kota-kota lain yang ada di Jawa Timur.”Ini merupakan kesempatan bagi umat Khonghucu untuk mendengarkan pemaparan beliau tentang tata upacara peribadahan Khonghucu yg tetap dilaksanakan di Tiongkok sampai saat ini,” imbuh Budi Wijaya.

Yang dipaparkan, Mr. Kong Xiangdong, jelas Budi Wijaya, dari mulai dari peralatan upacara, pakaian dan skema peribadahan. Menurut Mr. Kong Xiangdong, tata upacara ini sudah dilaksanakan sejak jaman dinasti Chun Jiu (Jaman Nabi Kongzi) sampai sekarang. “Semoga kehadiran beliau di Klenteng Boen Bio bisa memberi manfaat dan menambah pengetahuan tentang peribadahan agama Khonghucu. Apalagi nara sumbernya langsung dari keturunan Nabi Kongzi,” pungkas sesepuh Klenteng Boen Bio ini.

http://indochinatown.com/daerah/keturunan-nabi-kongzi-sambangi-klenteng-boen-bio/3787


Spread the love

Islam and Confucian Dialogue, Jakarta, October 2017

Spread the love

Dialog Islam – Khonghucu 2017

Dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Kongzi ke 2568, Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) mengadakan serangkaian kegiatan, salah satunya Dialog Islam – Khonghucu yang diselenggarakan di Hotel Hariston, Jakarta, Senin 16/10/2017.

Dialog yang mengangkat tema “Membangun Harmoni dan Jalan Tengah untuk mewujudkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia” ini menghadirkan Menteri Agama Republik Indonesia, Drs. Lukman Hakim Saifuddin sebagai pembicara kunci sekaligus membuka kegiatan ini.

Dialog Islam – Khonghucu ini bertjujuan mempererat hubungan antara Islam dan Khonghucu serta mencari titik temu dan jalan bersama untuk membantu mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi kita sebagai bangsa maupun warga negara.

(Foto: @Wibisana Ie, @Ardyan Johanka)

 

 

 


Spread the love

Buku Membongkar Sejarah Korelasi Khonghucu dan Tionghoa Indonesia (Tiong Hoa Hwe Koan)

Spread the love

“Membongkar Sejarah Korelasi Khonghucu dan Tionghoa Indonesia (Tiong Hwa Hwe Koan) diambil dari Catatan Kwee Tek Hoay dalam Majalah Moestika Romans 1933Penganut Khonghucu yang ingin mengetahui jati dirinya wajib membaca karya ini. Jika tidak maka akan dikhawatirkan menggung resiko kehilangan sejarah dan kehebatan apa yang telah dilakukan oleh para leluhur pendahulunya
Esai ini sangat bagus bagi para rohaniwan Khonghucu dan para aktivis Khonghucu serta para ilmuan yang konsen pada ilmu sejarah, karena didalamnya tidak hanya menceritakan sejarah agama Khonghucu di Indonesia pada jaman Pra Kemerdekaan. Tapi juga seluk beluk sejarah perjalanan umat Khonghucu dan etnis Tionghoa di Indonesia.

Esai ini juga memuat sejarah awal terbetuknya tata cara upacara kematian dan perkawinan sesuai ajaran Khonghucu pada masayarat tionghoa di Indonesia, esai ini juga menghasilkan sebuah pemikiran baru dimana ternyata sekolah Pahoa yang sekarang tersohor itu adalah sekolah berbasis agama Khonghucu yang merupakan sekolah Tiong Hwa Hwe Koan (THHK) di Batavia.

Dalam buku ini juga membahas bagaimana pengaruh THHK yang berdiri tahun 1900 dapat memberikan inspirasi terhadap terbentuknya gerakan Boedi Oetomo pada 1908

Kaum muda, intelektual dan para akademisi Khonghucu wajib membaca esai ini sehingga mengetahui sejarah yang sesungguhnya agar dapat menjadi individu yang ingin mengetahui apa yang menjadi keyakinannya terhadap agama Khonghucu (know what you believe).

Lalu bisa mempertanggung jawabkan bertanya pada diri sendiri dan masyarakat mengapa ia meyakini agama Khonghucu? (why you believe),

dengan demikian ia akan dapat menjadi individu yang matang dan faham akan asal usulnya sehingga keyakinannya dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah dan logis (accountable faith).

Seperti kata Nabi Kong Zi (Confucius) “Pelajarilah sejarah dengan demikian kita bisa banyak belajar dari apa yang sudah terjadi sehingga tidak mengulangi kesalahan yang sama pada masa lampau. Dan kita juga bisa menduga apa yang akan terjadi di masa depan”

Dimana Sunzi ahli strategi perang juga menyatakan “Untuk mengalahkan sebuah negara besar tidak perlu mengirimkan seribu pasukan dan kereta perang, hal ini hanya perlu kita buat generasi muda negara itu lupa dan tidak tahu akan kebesaran dan jasa para pahlawan mereka, maka dengan demikian negara (komunitas) tersebut akan hancur dengan sendirinya”
Harga 75.000,- (belum termasuk ongkir) penerbit Spouc Journal, Surabaya

Sebagian hasil penjualan buku ini akan digunakan untuk mendukung Program #Beasiswa_Gemaku_Peduli

Pemesanan bisa hub 081574084553 (WhatApps)

Spread the love

Kelenteng Hok Tek Bio Juga Gemakan Maulid Nabi Muhammad SAW

Spread the love

Kelenteng Ho Tek Bio Juga Gemakan Maulid Nabi Muhammad SAW

http://www.kupasmerdeka.com/…/kelenteng-ho-tek-bio-juga-ge…/

BOGOR (KM) – Ternyata, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak hanya digaungkan di masjid-masjid dan majlis taklim atau acara dan tempat yang notabene “milik” Umat Islam. Di Bogor, tepatnya di Kelenteng Ho Tek Ceng Sin Bio, Ciampea, komunitas Tionghoa, khususnya yang beragama Islam, juga menggemakan sholawat dan silaturahmi bersama warga dalam menyambut Maulid Nabi.

Merekalah para Melayu Tionghoa atau disebut juga dengan istilah “Tionghoa Babah” atau “Cina Benteng”, yang sudah berada di Indonesia sejak zaman kerajaan Pajajaran.

“Kami Tionghoa dari kakek buyut, namun Muslim dari nenek buyut kami.

Kamilah Melayu Tionghoa. Sebagian dari kami Muslim Tionghoa, sebagian lagi Khonghucu. Itulah kami, karena kami Indonesia,” terang pengurus Kelenteng Ho Tek Bio, Kristan, kepada KM, Senin 12/12.

Menurut Kris, Tionghoa Babah memiliki garis keturunan yang bersambung ke tokoh kerajaan Pajajaran, Raden Surya Kencana, melalui nenek buyutnya.

“Eyang Raden Surya Kencana, seorang Muslim, leluhur Tionghoa Babah dari kerajaan Padjajaran, dari garis nenek buyut,” jelas cendekiawan Khonghucu itu.

Memang, tampak di salah satu sisi di kelenteng itu, sebuah sesajen yang didedikasikan kepada Raden Surya Kencana, lengkap dengan sebuah patung harimau dan replika keris dan makanan-makanan sesajen yang melengkapi aura mistis di kelenteng tersebut.

Adapun dalam rangka menyambut Maulid Nabi, para Tionghoa Babah dan warga setempat melantunkan sholawat di kelenteng, dipimpin oleh Ustadz Warib, salah seorang tokoh setempat, hingga menjelang waktu Maghrib.

Usai bersholawat, para hadirin pun memotong tumpeng dan bersilaturahmi dengan warga sekitar. (HJA)

http://www.kupasmerdeka.com/2016/12/kelenteng-ho-tek-bio-juga-gemakan-maulid-nabi-muhammad-saw/


Spread the love

Perwakilan Gemaku menghadiri acara kemenlu

Spread the love

img-20161130-wa0005Perwakilan Generasi Muda Khonghucu (GEMAKU) Oscard dan sandy, menghadiri acara yang di selenggarakan oleh Kemenlu yang bekerja sama dengan ASEAN institute of peace and reconciliation (AIPR) dan ASEAN study center, dengan Tema ” Membendung violent extremism dan islamophobia: peran penting kaum muda” di Aula Juwono sudarsono, fakultas ilmu sosial dan ilmu politik (FSIP) universitas Indonesia. 30 november 2016


Spread the love

Umat Khonghucu yakini Islam sebagai mitra pelindung

Spread the love

Umat Khonghucu yakini Islam sebagai mitra pelindung

Sabtu, 5 November 2016 19:43 WIB – 4.243 Views

Pewarta: Hanni Sofia Soepardi

Jakarta (ANTARA News) – Umat Khonghucu meyakini umat Islam di Indonesia dapat menjadi mitra sekaligus pelindung dalam kehidupan bermasyarakat dan berdemokrasi di Tanah Air.
Ketua Presidium Generasi Muda Khonghuchu Indonesia (GEMAKU) Pusat Kristan, Conf.Sc, MA di Jakarta, Sabtu, mengatakan Umat Islam selama ini sudah memainkan peran sebagai mitra dan pelindung yang baik bagi kaum minoritas di Indonesia.
“Kami masih tetap meyakini Umat Islam sebagai partner dan pelindung dalam bermasyarakat,” katanya.

Pihaknya bahkan telah membuat Pernyataan Sikap Bersama DPP Generasi Muda (Gema) Mathlaul Anwar dan Generasi Muda Khonghuchu (Gemaku) Indonesia Pusat pada Posko Simpatik dalam aksi 4 November 2016.
Kedua pihak sepakat mendukung pemerintah untuk memproses secara hukum laporan dugaan penistaan agama yang dilakukan saudara Basuki Tjahaya Purnama (Ahok).

“Kami mengapresiasi umat Islam yang melakukan aksi turun ke jalan secara damai dan simpatik,” katanya.

Pada kesempatan yang sama Ketua Umum DPP Gema Mathlaul Anwar Ahmad Nawawi menyatakan umat Islam selalu berusaha menjadi mitra yang baik bagi umat lain dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Terkait aksi 4 November 2016, pihaknya sangat mengapresiasi aparat keamanan yang melakukan pengawalan secara persuasif dengan cara-cara inovatif sehingga demonstrasi berlangsung aman.

“Kami menegaskan bahwa umat Islam sangat menghargai umat agama lain sehingga di masa mendatang setiap umat beragama yang berbeda dapat bekerja sama di segala bidang dengan prinsip saling menghargai, menghormati, dan memahami,” demikian Nawawi.

Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2016

http://m.antaranews.com/berita/594394/umat-khonghucu-yakini-islam-sebagai-mitra-pelindung


Spread the love