Buku Membongkar Sejarah Korelasi Khonghucu dan Tionghoa Indonesia (Tiong Hoa Hwe Koan)

“Membongkar Sejarah Korelasi Khonghucu dan Tionghoa Indonesia (Tiong Hwa Hwe Koan) diambil dari Catatan Kwee Tek Hoay dalam Majalah Moestika Romans 1933Penganut Khonghucu yang ingin mengetahui jati dirinya wajib membaca karya ini. Jika tidak maka akan dikhawatirkan menggung resiko kehilangan sejarah dan kehebatan apa yang telah dilakukan oleh para leluhur pendahulunya
Esai ini sangat bagus bagi para rohaniwan Khonghucu dan para aktivis Khonghucu serta para ilmuan yang konsen pada ilmu sejarah, karena didalamnya tidak hanya menceritakan sejarah agama Khonghucu di Indonesia pada jaman Pra Kemerdekaan. Tapi juga seluk beluk sejarah perjalanan umat Khonghucu dan etnis Tionghoa di Indonesia.

Esai ini juga memuat sejarah awal terbetuknya tata cara upacara kematian dan perkawinan sesuai ajaran Khonghucu pada masayarat tionghoa di Indonesia, esai ini juga menghasilkan sebuah pemikiran baru dimana ternyata sekolah Pahoa yang sekarang tersohor itu adalah sekolah berbasis agama Khonghucu yang merupakan sekolah Tiong Hwa Hwe Koan (THHK) di Batavia.

Dalam buku ini juga membahas bagaimana pengaruh THHK yang berdiri tahun 1900 dapat memberikan inspirasi terhadap terbentuknya gerakan Boedi Oetomo pada 1908

Kaum muda, intelektual dan para akademisi Khonghucu wajib membaca esai ini sehingga mengetahui sejarah yang sesungguhnya agar dapat menjadi individu yang ingin mengetahui apa yang menjadi keyakinannya terhadap agama Khonghucu (know what you believe).

Lalu bisa mempertanggung jawabkan bertanya pada diri sendiri dan masyarakat mengapa ia meyakini agama Khonghucu? (why you believe),

dengan demikian ia akan dapat menjadi individu yang matang dan faham akan asal usulnya sehingga keyakinannya dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah dan logis (accountable faith).

Seperti kata Nabi Kong Zi (Confucius) “Pelajarilah sejarah dengan demikian kita bisa banyak belajar dari apa yang sudah terjadi sehingga tidak mengulangi kesalahan yang sama pada masa lampau. Dan kita juga bisa menduga apa yang akan terjadi di masa depan”

Dimana Sunzi ahli strategi perang juga menyatakan “Untuk mengalahkan sebuah negara besar tidak perlu mengirimkan seribu pasukan dan kereta perang, hal ini hanya perlu kita buat generasi muda negara itu lupa dan tidak tahu akan kebesaran dan jasa para pahlawan mereka, maka dengan demikian negara (komunitas) tersebut akan hancur dengan sendirinya”
Harga 75.000,- (belum termasuk ongkir) penerbit Spouc Journal, Surabaya

Sebagian hasil penjualan buku ini akan digunakan untuk mendukung Program #Beasiswa_Gemaku_Peduli

Pemesanan bisa hub 081574084553 (WhatApps)

Kelenteng Hok Tek Bio Juga Gemakan Maulid Nabi Muhammad SAW

Kelenteng Ho Tek Bio Juga Gemakan Maulid Nabi Muhammad SAW

http://www.kupasmerdeka.com/…/kelenteng-ho-tek-bio-juga-ge…/

BOGOR (KM) – Ternyata, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak hanya digaungkan di masjid-masjid dan majlis taklim atau acara dan tempat yang notabene “milik” Umat Islam. Di Bogor, tepatnya di Kelenteng Ho Tek Ceng Sin Bio, Ciampea, komunitas Tionghoa, khususnya yang beragama Islam, juga menggemakan sholawat dan silaturahmi bersama warga dalam menyambut Maulid Nabi.

Merekalah para Melayu Tionghoa atau disebut juga dengan istilah “Tionghoa Babah” atau “Cina Benteng”, yang sudah berada di Indonesia sejak zaman kerajaan Pajajaran.

“Kami Tionghoa dari kakek buyut, namun Muslim dari nenek buyut kami.

Kamilah Melayu Tionghoa. Sebagian dari kami Muslim Tionghoa, sebagian lagi Khonghucu. Itulah kami, karena kami Indonesia,” terang pengurus Kelenteng Ho Tek Bio, Kristan, kepada KM, Senin 12/12.

Menurut Kris, Tionghoa Babah memiliki garis keturunan yang bersambung ke tokoh kerajaan Pajajaran, Raden Surya Kencana, melalui nenek buyutnya.

“Eyang Raden Surya Kencana, seorang Muslim, leluhur Tionghoa Babah dari kerajaan Padjajaran, dari garis nenek buyut,” jelas cendekiawan Khonghucu itu.

Memang, tampak di salah satu sisi di kelenteng itu, sebuah sesajen yang didedikasikan kepada Raden Surya Kencana, lengkap dengan sebuah patung harimau dan replika keris dan makanan-makanan sesajen yang melengkapi aura mistis di kelenteng tersebut.

Adapun dalam rangka menyambut Maulid Nabi, para Tionghoa Babah dan warga setempat melantunkan sholawat di kelenteng, dipimpin oleh Ustadz Warib, salah seorang tokoh setempat, hingga menjelang waktu Maghrib.

Usai bersholawat, para hadirin pun memotong tumpeng dan bersilaturahmi dengan warga sekitar. (HJA)

http://www.kupasmerdeka.com/2016/12/kelenteng-ho-tek-bio-juga-gemakan-maulid-nabi-muhammad-saw/

Perwakilan Gemaku menghadiri acara kemenlu

img-20161130-wa0005Perwakilan Generasi Muda Khonghucu (GEMAKU) Oscard dan sandy, menghadiri acara yang di selenggarakan oleh Kemenlu yang bekerja sama dengan ASEAN institute of peace and reconciliation (AIPR) dan ASEAN study center, dengan Tema ” Membendung violent extremism dan islamophobia: peran penting kaum muda” di Aula Juwono sudarsono, fakultas ilmu sosial dan ilmu politik (FSIP) universitas Indonesia. 30 november 2016

Umat Khonghucu yakini Islam sebagai mitra pelindung

Umat Khonghucu yakini Islam sebagai mitra pelindung

Sabtu, 5 November 2016 19:43 WIB – 4.243 Views

Pewarta: Hanni Sofia Soepardi

Jakarta (ANTARA News) – Umat Khonghucu meyakini umat Islam di Indonesia dapat menjadi mitra sekaligus pelindung dalam kehidupan bermasyarakat dan berdemokrasi di Tanah Air.
Ketua Presidium Generasi Muda Khonghuchu Indonesia (GEMAKU) Pusat Kristan, Conf.Sc, MA di Jakarta, Sabtu, mengatakan Umat Islam selama ini sudah memainkan peran sebagai mitra dan pelindung yang baik bagi kaum minoritas di Indonesia.
“Kami masih tetap meyakini Umat Islam sebagai partner dan pelindung dalam bermasyarakat,” katanya.

Pihaknya bahkan telah membuat Pernyataan Sikap Bersama DPP Generasi Muda (Gema) Mathlaul Anwar dan Generasi Muda Khonghuchu (Gemaku) Indonesia Pusat pada Posko Simpatik dalam aksi 4 November 2016.
Kedua pihak sepakat mendukung pemerintah untuk memproses secara hukum laporan dugaan penistaan agama yang dilakukan saudara Basuki Tjahaya Purnama (Ahok).

“Kami mengapresiasi umat Islam yang melakukan aksi turun ke jalan secara damai dan simpatik,” katanya.

Pada kesempatan yang sama Ketua Umum DPP Gema Mathlaul Anwar Ahmad Nawawi menyatakan umat Islam selalu berusaha menjadi mitra yang baik bagi umat lain dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Terkait aksi 4 November 2016, pihaknya sangat mengapresiasi aparat keamanan yang melakukan pengawalan secara persuasif dengan cara-cara inovatif sehingga demonstrasi berlangsung aman.

“Kami menegaskan bahwa umat Islam sangat menghargai umat agama lain sehingga di masa mendatang setiap umat beragama yang berbeda dapat bekerja sama di segala bidang dengan prinsip saling menghargai, menghormati, dan memahami,” demikian Nawawi.

Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2016

http://m.antaranews.com/berita/594394/umat-khonghucu-yakini-islam-sebagai-mitra-pelindung

Gemaku.org Islam and Confucian School of Peace, Malang, 14-16 Oktober 2016

Mereka ini Berdialog sambil Belajar Hubungan Lintas Agama

Sejumlah mahasiswa dari berbagai daerah di tanah air mengikuti kegiatan Sekolah Dialog Islam dan Khonghucu untuk Perdamaian di Klenteng Eng An Kiong Malang, pada 14 – 16 Oktober 2016.

Kegiatan tersebut secara khusus mengajak mahasiswa S1 maupun S2 berpartisipasi untuk mengikuti kegiatan dialog lintas agama. Sejumlah materi terkait menghilangkan prasangka, membangun harmoni maupun etika sosial diberikan untuk menciptakan pengetahuan baru bagi mahasiswa tentang pentingnya dialog lintas iman.

Sejumlah pemateri dengan otoritas keilmuwan mempuni dibidangnya pun diundang untuk memberikan pemahaman signifikan tentang perlunya dialog lintas iman tersebut.

img-20161017-wa027

Salah satu peserta, Desi Fajarwati Lesmana dari UIN Sunan Ampel Surabaya sekaligus anggota YIPC Jawa Timur, mengemukan jika kegiatan tersebut sangat berkesan, memberikan pemahaman yang cukup luas tentang manfaat etika sosial.

“Materi berkesan sih tentang etika sosial yang dibawakan oleh Pak Syamsul Arifin. Pemateri tersebut menggunakan teori dari Abdullah Said terkait core values – fundamental values, interpretation dan manifestation,” ungkap Desi.

Dia menambahkan jika pemahaman sederhananya seperti ini, core values merupakan inti dari dalam agama. Di dalam islam, misalnya terkait sholat, puasa, dll dan itulah yang disebut fundamental values dan melekat kuat bagi para pemeluknya. Sedangkan interpretasi ini kemudian menjadikan banyak perbedaan dalam setiap agama. Hal ini juga dikaitkan adanya manifestasi, berupa sentuhan budaya dalam setiap keyakinan dan agama.

Pesan lainnya, lanjut Desi, adanya etika yang bisa dijalankan dengan penuh kesadaran, yaitu memahami sesuatu yang baik dan buruk.

“Pak Syamsul mengambil pelajaran dari Film Rudy Habibi tidak membatasi dan menyimplifikasikan tuhan dalam agama dan juga tidak menyimplifikasikan tuhan dalam tempat ibadah. Sebab Rudy Habibi pernah melakukan sholat dalam Gereja saat beliau di Eropa,” tegas Desy memberikan rasa berkesannya terhadap materi dari Pak Syamsul.

Kegiatan Sekolah Dialoq Islam dan Khonghucu untuk Perdamaian berlangsung selama tiga hari dengan beberapa materi dan game-game menarik.

“Event ini sangatlah menarik sekali dan memiliki sisi edukasi,” ungkap Mario dari Unhas, pada saat  mengikuti kegiatan tersebut.

Mereka ini Berdialog sambil Belajar Hubungan Lintas Agama

 

Sekolah Dialog Islam dan Khonghucu di Kelenteng Eng An Kiong Malang

Upacara Adat Seren Taun (22 Rayagung 1949 Saka Sunda)

Perwakilan GEMAKU (Bandung) dalam acara Upacara Adat Seren Taun (22 Rayagung 1949 Saka Sunda). Indonesia tercipta dari aneka ragam adat, suku, budaya dan keyakinan. Dan hal itu selayaknya menjadi nilai tambah kebhinekaan yang harus terus dijaga dan dilestarikan keberadaannya. Dipahami perbedaannya, dan dihormati segala kontribusinya. Acara tersebut dihadiri pula oleh sejumlah pejabat nasional maupun daerah, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Trasmigrasi, Bupati Kuningan, Wakil Ketua DPD – RI (GKR Hemas), dll.

Upacara seren taun adalah ungkapan syukur dan doa masyarakat sunda atas suka duka yang mereka alami terutama di bidang pertanian selama setahun yang telah berlalu dan tahun yang akan datang. Seren taun dilaksanakan setiap tanggal 22 Bulan Rayagung sebagai bulan terakhir dalam perhitungan kalender sunda. Selain ritual-ritual yang bersifat sakral, digelar juga kesenian dan hiburan. Dengan kata lain kegiatan ini merupakan hubungan antara manusia dengan tuhan, dan juga dengan sesama mahluk atau alam baik lewat kegiatan kesenian, pendidikan, dan sosial budaya.

Upacara Seren Taun diawali dengan upacara ngajayak ( Menjemput Padi ), pada tanggal 18 Rayagung yang dilanjutkan dengan upacara penumbukan padi dan sebagai puncak acaranya pada tanggal 22 Rayagung. Ngajayak dalam bahasa sunda berarti menerima dan menyambut, sedangkan bilangan 18 yang dalam bahasa sunda diucapkan ÔÇ£dalapan welasÔÇØ berkonotasi welas asih yang artinya cinta kasih serta kemurahan Tuhan yang telah menganugerahkan segala kehidupan bagi umat-Nya di segenap penjuru bumi.

Puncak acara Seren Taun berupa penumbukan padi pada tanggal 22 Rayagung juga memiliki makna tersendiri. Bilangan 22 dimaknai sebagai rangkaian bilangan 20 dan 2. Padi yang ditumbuk pada puncak acara sebanyak 22 kwintal dengan pembagian 20 kwintal untuk ditumbuk dan dibagikan kembali kepada masyarakat dan 2 kwintal digunakan sebagai benih. Bilangan 20 merefleksikan unsur anatomi tubuh manusia.

Baik laki-laki ataupun perempuan memiliki 20 sifat wujud manusia, adalah : 1. getih atau darah, 2. daging, 3. bulu, 4. kuku, 5. rambut, 6. kulit, 7. urat, 8. polo atau otak, 9. bayah atau paru, 10. ari atau hati, 11. kalilipa atau limpa, 12. mamaras atau maras, 13. hamperu ataun empedu, 14. tulang, 15. sumsum, 16. lamad atau lemak, 17. gegembung atau lambung. 18. peujit atau usus. 19. ginjal dan 20. jantung.

Ke 20 sifat diatas menyatukan organ dan sel tubuh dengan fungsi yang beraneka ragam, atau dengan kata lain tubuh atau jasmani dipandang sebagai suatu struktur hidup yang memiliki proses seperti hukum adikodrati. Hukum adikodrati ini kemudian menjelma menjadi jirim ( raga ), jisim ( nurani ) dan pengakuan ( aku ). Sedangkan bilangan 2 mengacu pada pengertian bahwa kehidupan siang dan malam, suka duka, baik buruk dan sebaginya.

Dalam upacara seren taun yang menjadi objek utama adalah PADI. Padi dianggap sebagai lambang kemakmuran karena daerah Cigugur khususnya dan daerah sunda lain pada umumnya merupakan daerah pertanian yang berbagai kisah klasik satra sunda, seperti kisah Pwah Aci Sahyang Asri yang memberikan kesuburan bagi petani sebagai utusan dari Jabaning Langit yang turun ke bumi. Dalam upacara seren taun inilah dituturkan kembali kisah-kisah klasik pantun sunda yang bercerita tentang perjalanan Pwah Aci Sahyang Asri. Selain itu, padi merupakan sumber bahan makanan utama yang memiliki pengaruh langsung pada ke-20 sifat wujud manusia diatas.

Dalam kesempatan Upacara Seren Taun kali ini menampilkan, Damar Sewu merupakan sebuah helaran budaya yang mengawali rangkaian upacara adat seren taun Cigugur. Merupakan gambaran manusia dalam menjalani proses kehidupan baik secara pribadi maupun sosial.Tari Buyung yang merupakan tarian adat sunda yang mencerminkan masyrakat sunda dalam mengambil air, Pesta Dadung merupakan upacara sakral masyarakat dilaksanakan di Mayasih yang merupakan upaya meruwat dan menjaga keseimbangan antara positif dan negatif di alam, jadi pesta dadung merupakan upaya meruwat dan menjaga keseimbangan alam agar hama dan unsur negatif tidak menggangu kehidupan manusia.

Ngamemerokeun merupakan upacara sakral didalam tradisi Sunda Wiwitan yang masih dilaksanakan di daerah Kanekes ( Baduy ). Upacara ini berintikan mempertemukan dan mengawinkan benih padi jantan dan betina. Selanjutnya Tarawangsa yakni seni yang berasal dari mataram kira-kira abad ke XV, seni Tarawangsa disebut juga seni jentreng, menginduk kepada suara kecapi, juga ada yang menamai seni ngekngek, menginduk kepada suara tarawangsa. Mula-mula yang dipentaskan hanya tabuhan kecapi dan tarawangsa saja, tapi disertai penari, agar lebih menarik akhirnya Tarawangsa dilengkapi dengan tarian-tarian sederhana yang disebut tari Badaya.

Pwah Aci atau yang lebih dikenal dengan Dewi Sri merupakan tokoh yang telah melegenda dan memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat agraris khususnya tatar sunda. Tari Pwah Aci merupakan salah satu seni tari spiritual yang di dalamnya tersirat ungkapan rasa hormat dan bhakti kepada Sang Pemberi Hidup melalui gerak dan ekspresi.

Seribu Kentongan merupakan acara penutup rangkaian acara di bukit Situ Hyang. lebih dari 1000 orang terdiri dari masyarakat dan anak-anak sekolah serta seluruh peserta pendukung rangkaian acara seren taun menuju Paseban Tri Panca Tunggal ditutup dengan 10 orang rampak kendang. Dimulai dengan pukulan induk oleh Ketua Adat kemudian diikuti oleh ribuan peserta. Ini memiliki makna bahwa kentongan awi ( Bambu ) memiliki arti kita harus senantiasa ingat dan eling pada asal wiwitan atau hukum adikodrati yang menentukan nilai kemanusian dan kebangsaan.

Dilihat dari sisi budaya, upacara adat seren taun yang sudah berjalan tahunan di Kabupaten Kuningan ini, tentunya merupakan hal yang dapat dibanggakan oleh masyarakat karena setiap helatan Seren Taun ini dilaksanakan, dapat mendatangkan ribuan pendatang wisatawan domestik maupun mancanegara. Hanya saja dilihat dari sisi ekonomis belum dapat memberikan efek ekonomi kepada masyarakat sekitar.

Sehingga merupakan tugas kita semua, dalam setiap helaran yang rutin dilaksanakan setiap tahun ini dapat memberikan nilai ekonomi yang fositif kepada masyarakat sekitar. Seperti contoh masyarakat sekitar dapat membuat cendra mata khas Cigugur dan barang-barang yang mempunyai nilai khas sehingga para pendatang mempunyai kenangan tersendiri terhadap upacara seren taun ini dengan membeli barang tersebut.
Semoga di tahun-tahun yang akan datang hal ini dapat dimanfaatkan sebagai ajang peningkatan ekonomi masyarakat dan juga meningkatkan dunia pariwisata masyarakat Kabupaten Kuningan. ( Bagian Humas Setda Kabupaten Kuningan).

Bhinneka Tunggal Ika merupakan kodrat yang tidak dapat ditawar lagi, Pancasila merupakan roh dan jiwa bangsa yang menyelimuti hati segenap rakyatnya, NKRI ialah bingkai negeri, harga mati bagi konsep persatuan Indonesia dalam merajut perbedaan. Atas dasar itu pulalah kita sebagai anak bangsa Indonesia kembali bersama-sama meyakinkan diri tentang nilai-nilai persatuan dalam sebuah kehidupan kemanusiaan di tanah air tercinta. Karena sejatinya perbedaan ialah anugrah Sang Pencipta untuk melengkapi segenap wujud. Karena dari perbedaan itulah kita terlahir dan hidup. Semoga Huang Tian Shang Di mengingatkan kembali tentang nilai-nilai pluralisme yang ada, agar kami tidak khilaf dan terus membawa nama Mu dalam segala bentuk nilai-nilai negatif akibat sebuah perbedaan yang sebenarnya telah kau gariskan. Mari kembali kita merenungi nilai kebersamaan bahwa di empat penjuru lautan semua manusia bersaudara, tiada sekat perbedaan suku, agama, ras, etnis, kepercayaan yang dapat memecah belah kehidupan bersama.

Segelintir doa lintas agama dari perwakilan GEMAKU dalam upacara adat Seren Taun (22 Rayagungdi Cagar Budaya Nasional Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur, Kuningan – Jawa Barat (24 – 25 September 2015)

img-20160924-wa0013

img-20160924-wa0010  img-20160924-wa0015

 

 

Seminar Badan Perencanaan Pembangunan Nasional – Hotel Marcopolo, Jakarta

Dq. Yudianto dan Dq. Darma mewakili GEMAKU dalam Seminar Pembangunan Nasional bersama BAPPENAS (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), Hotel Marcopolo Jakarta (21 September 2016).

Diskusi Bappenas bersama generasi muda dalam merencanakan strategi pembangunan nasional yang efektif dan berkelanjutan. Bekerja sama dengan Pusat Kajian Kepemudaan untuk menentukan bagaiamana langkah-langkah pembangunan kepemudaan kedepan. Membangun sumber daya manusia dengan konsep-konsep strategis ke arah yang lebih baik.

Mengawal kegiatan-kegiatan kepemudan yang bersinergi dengan program-program pembangunan sumber daya manusia yang berdaya saing.

 

img-20160921-wa0002 img-20160921-wa0005 img-20160921-wa0006

Focus Group Discussion : Celebrating Diversity of Peace “Pemuda Merayakan Keberagaman dan Mengamalkan Nilai-nilai Pancasila”

 

Dq. Anggi Sanjaya mewakili Gemaku dalam acara focus group discussion lintas agama yang digagas oleh Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Jakarta bersama Orang Muda Lintas Agama. Peserta berasal dari beberapa organisasi dan lembaga kepemudaan lintas agama (PMKAJ, PMKRI, PHDI, Hikmahbudhi, IPPNU, Forum Jong Indonesia, ANBTI, Gusdurian, ICRP, Peradah, Pemuda MATAKIN, dll).

Kegiatan ini dibuka oleh Bpk. Anang Prihantoro (Anggota DPD – RI), beliau menyampaikan bahwa pemuda lintas agama harus sering bertemu dan berjumpa dalam segala hal. Sebab keberagaman akan tumbuh jika para pemuda mampu berdialog dan membangun persaudaraan guna membangun bangsa ini menjadi bangsa yang lebih baik.

Selanjutnya diikuti beberapa narasumber lain diantaranya; Yudi Latief (Ketua Reform Institute dan Kepala Pusat Study Pancasila, Alissa Wahid (Gusdurian), Bhikku Darmakaro (Walubi), Pdt. Manuel E. Raitung (Ketua PGI Jakarta), Prof. Magnis Suseno, Bpk. Dr. H. Rumadi (PBNU), Js. Liem Liliany Lontoh (Matakin Jakarta). Wayan Sudane (PHDI), dll.

Hasil FGD Dalam Komitmen Bersama Orang Muda Lintas Agama

1. Menggugah dan mengingatkan orang muda Indonesia tentang pentingnya budaya dialog antar umat dari berbagai latar belakang agama dan tradisi budaya agar tercipta budaya damai, toleran dan saling memahami antar umat, sebagai aktualisasi kasih kepada Tuhan Allah dan sesama sesuai dengan ajaran kasih dari agama dan keyakinan masing-masing.

2. Agar peran kerukunan antar agama dapat menjadi suatu forum untuk saling tukar informasi diantara umat dari berbagai latar belakang budaya dan agama guna mendapatkan pemahaman yang lengkap dan mencari common world agar tercipta budaya toleransi dan saling memahami satu sama lain.

3. Menyebarluaskan budaya damai dan toleran sampai di tingkat akar rumput secara bersama-sama oleh tokoh lintas agama dan memperteguh pelayanan kasih dalam sesama umat beriman.

4. Memfasilitasinya orang muda dari berbagai agama untuk saling mengenal perbedaan agama dan memahami nilai-nilai pancasila serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

5. Membentuk komunitas orang muda lintas agama yang mempunyai visi keterbukaan, toleran dan mengedepankan dialog untuk mewujudkan perdamaian.

6. Memunculkan para orang muda sebagai lokomotif perdamaian berbakat yang concern terhadap isu-isu kerukunan dan perdamaian.

img-20160920-wa0036 img-20160920-wa0038 img-20160920-wa0039

 

Keberagaman merupakan sebuah keniscayaan yang tidak perlu lagi diperdebatkan, karena menyangkut kodrat dan hak manusia dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Apalagi orang yang membeda-bedakan manusia; membenci, menyalahkan seseorang hanya berdasar perbedaan SARA ialah orang yang justru secara tidak langsung menyalahkan Khalik Sang Pencipta Alam Semesta. Karena dari-Nya lah semua berasal, DIA tidak ingin kita sama, maka DIA mengilhami perbedaan itu untuk kemudian dapat dirajut oleh manusia menjadi sebuah bingkai besar gambaran keindahan dunia.

 

Sabtu, 17 September 2016

(Gedung Nusantara V Ruang GBHN Kompleks Parlemen MPR, DPR, DPD RI – Jakarta)

Pentas Seni Gemaku @Gereja St. Matias – Cinere

Penampilan Wushu Genta Suci (MAKIN Cibinong-Bogor) mewakili Gemaku dalam Pentas Seni Penutupan PORSENI 2016 Gereja Katolik St. Matias – Cinere.

(Sabtu, 20 Agustus 2016)

 

Gemaku berpartisipasi dalam kegiatan pentas seni yang diadakan oleh Gereja St. Matias Cinere dalam rangka penutupan PORSENI 2016 bertemakan “Spirit of unity in diversity“.

Tuhan Sang Pencipta memang tidak pernah setuju kita sama, maka dari itulah kita berbeda. Tapi perbedaan bukanlah halangan untuk kita bersatu, bukan alasan untuk menjaga jarak dan tidak saling menghormati. Bahwa keberagaman harus disikapi dengan bijaksana, saling melengkapi sehingga semangat persatuan didalam perbedaan dapat terus terjaga.

Jika kalian masih terlalu sempit mempermasalahkan perbedaan, maka kalian sejatinya tidak menghormati Sang Pencipta. Jika kalian percaya DIA begitu Maha Kuasa, bukankah dengan mudah DIA membuat kita semua seragam? Tidak, DIA tidak inginkan itu. Maka sejatinya hidup rukunlah dalam setiap perbedaan.

 

“Seorang bijak dapat hidup rukun walau berbeda, Seorang rendah budi tidak dapat rukun walaupun sama”

“Diempat penjuru lautan, semua manusia bersaudara”

– Confucius –

 

img-20160821-wa0001 img-20160821-wa0003 img-20160821-wa0004 img-20160821-wa0005 img-20160821-wa0006 img-20160821-wa0007 img-20160821-wa0009